Breaking News:

Berita Surabaya

Geger, Dua Sepupu di Surabaya Pilih Sumpah Pocong Saat Ikuti Hearing di DPRD Lantaran Sengketa Tanah

Komisi ini menggelar hearing lantaran proyek PDAM di Pacar Kembang terkendala lahan milik warga. Ada bangunan rumah yang ternyata sengketa keluarga

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM/HANGGARA PRATAMA
Ilustrasi Sumpah pocong 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Kehadiran dua kerabat asal Kelurahan Pacar Kembang, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Dul Rahman dan Sulastri, menjadi pusat perhatian Komisi C DPRD Surabaya.

Forum hearing menjadi ger-geran lantaran keduanya enggan bersalaman. 

Meski keduanya saudara sepupu, namun mereka juga duduk berjauhan dan tidak saling pandang. "Siwak-Siwakan Ngene terus rak gak enak. Nek riyoyo Yoopo, (Saling tidak tegur sapa begini terus kan nggak enak. Kalau Hari Raya Bagaimana)." reaksi Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono.

Reaksi Baktiono ini disambut tawa semua anggota Komisi C dan pejabat yang lain. Komisi ini menggelar hearing lantaran proyek PDAM di Pacar Kembang terkendala lahan milik warga. Ada bangunan rumah yang ternyata sengketa keluarga. Antara Rahman dan Sulastri. 

Selain dari manajemen PDAM, hadir pula lurah dan camat setempat. Berkali-kali, semua peserta hearing terus tertawa. Apalagi Rahman yang sudah berusia 60 tahun makin semangat bahwa tanah itu miliknya. Sementara Sulastri juga mengklaim itu tanah miliknya.

Baca juga: Meski Ada Kelonggaran Beberapa Ruas Jalan di Surabaya Diberlakukan Penutupan, Ini Jadwalnya

Rahman bahkan menyebut secara absolut. "Kalau secara absolut tanah itu miliknya ya harus dibongkar. Jelas itu milik saya, saya berani sumpah pocong," kata Rahman saat ditemui.

Bangunan rumah yang disengketakan itu menjadi menonjol ke jalan kampung. Saat ada proyek PDAM menjadi terkendala karena baunan ini. Saat pembahasan masalah ini, tiba-tiba terkuak bahwa muaranya ada pada sengketa tanah antara dua kerabat. 

Ada yang mengklaim sudah ada serifikat. Baktiono pun meminta menunggu hasil riwayat tanah di kelurahan. Jika riwayat ini menyatakan milik Rahman, Sulastri harus membongkar. Usai rapat, Baktiono meminta dua kerabat itu bersalaman. 

Namun karena dalih masih covid, mereka enggan berjabat tangan. Tangan Mereka saling berjauhan. "Kan masih pandemi. Tidak boleh jabat tangan," kata Sulastri. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved