Breaking News:

Berita Pamekasan

Meneladani Kesantunan Bupati Pamekasan Badrut Tamam yang Perhatikan Warganya

Bupati yang akrab disapa Mas Tamam tersebut selalu memberikan perhatian penuh kepada masyarakatnya, dengan cara tegur sapa secara hangat

Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM/KUSWANTO FERDIAN
Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam saat memberikan sambutan memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2021 di lapangan Nagara Bhakti Mandhapa Aghung Ronggosukowati, Jum'at (22/10/2021). 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam dikenal dengan sosok yang tidak berjarak dengan masyarakatnya. 

Ia tidak canggung memeluk rakyatnya setiap kali turun ke bawah.

Bupati yang akrab disapa Mas Tamam tersebut selalu memberikan perhatian penuh kepada masyarakatnya, dengan cara tegur sapa secara hangat tanpa ada jarak, memeluk rakyatnya, mencium tangan orang sepuh, bahkan bisa dipastikan orang nomor satu di Pamekasan ini memberikan tali asih kepada setiap orang yang dianggap kurang mampu setiap kali turun ke lapangan.

Kebiasaan baik dan sikap rendah hati ini nyaris tak ditemukan di kalangan pejabat publik. 

Apalagi kebiasaan mencium tangan rakyatnya sendiri.

"Karena untuk menjadi terhormat itu harus bisa menghormati orang lain. Jangan karena ingin terhormat kemudian menginjak kehormatan orang lain," kata bupati murah senyum tersebut kepada TribunMadura.com, Jumat (22/10/2021).

Baca juga: Apel Akbar Peringati Hari Santri Nasional, Bupati Pamekasan Ajak Santri Berprestasi

Bukti terbaru kedekatan bupati dengan rakyatnya saat duduk lesehan bersama para santri saat perayaan hari santri nasional di Pondok Pesantren Sumber Anom, Desa Angsanah, Kecamatan Palengaan beberapa waktu lalu.

Kemudian, tokoh muda Nahdlatul Ulama ini juga makan nasi bungkus bersama dengan para pekerja proyek ketika memantau pekerjaan jalan dari Kecamatan Pegantenan menuju Kecamatan Batumarmar, Kamis 21 Oktober 2021 kemarin.

Menurut Mas Tamam, jabatan bupati yang diembannya tersebut hanya jabatan sementara yang tidak bisa dibanggakan.

Makanya, posisi bupati semata-mata akan ia gunakan untuk kepentingan masyarakatnya.

"Bupati itu bukan tujuan, tetapi alat pengabdian untuk masyarakat. Karena bupati itu dalam bahasa Maduranya songot pasangan (kumis pasangan), yang bisa dibuka setiap lima tahun," urainya.

Selain itu, bupati yang masuk bursa tokoh layak memimpin Jawa Timur tersebut selalu menjadi objek foto bersama masyarakatnya. 

Terutama ketika blusukan melihat kondisi masyarakatnya di bawah.

"Kalau bupati hanya menjadi tujuan, ya sudah selesai, tidak harus bekerja apa-apa untuk kepentingan masyarakat. Makanya bagi saya, jabatan bupati ini hanya alat pengabdian," tutup dia.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved