Breaking News:

Berita Surabaya

Ini Pelaku Debt Collector Pinjol di Surabaya Sadis Menagih, Ternyata Diberi Kenyamanan Gaji

mereka bisa memperoleh 65-75% dari nilai total uang penagihan debitur atau nasabah. Atau senilai Rp160-250 Ribu, untuk satu orang debitur

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM/LUHUR PAMBUDI
Rendy Hardiansyah, (28) warga Cibungbulang, Bogor, Jabar; Anggi Sulistya Agustina (31) warga Tajurhalang, Bogor, Jabar; dan, Alditya Puji Pratama (27) warga Jombang, Jatim, para DC Pinjol Ilegal yang tagih nasabah pakai ancaman 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Terungkap motif tiga orang oknum debt collector (DC) aplikator pinjaman online (pinjol) ilegal yang diduga melakukan penagihan intimidatif kepada nasabahnya.

Tiga orang DC tersebut, ternyata memperoleh gaji dari perusahaan penyedia jasa penagih pinjol tersebut sekitar Rp4,2 Juta, sebagai gaji pokok dari kinerja mereka selama kurun waktu satu bulan bekerja.

Selain itu, mereka juga memiliki potensi memperoleh sejumlah uang tambahan sebagai insentif dari kinerja selama menagih.

Yakni, mereka bisa memperoleh 65-75% dari nilai total uang penagihan debitur atau nasabah. Atau senilai Rp160-250 Ribu, untuk satu orang debitur.

Tak berhenti di situ, ungkap Nico, penyebab ketiga pelaku tergiur melakukan praktik bisnis secara ilegal tersebut, juga disebabkan adanya fasilitas kuota internet gratis yang akan terus digelontor oleh pihak perusahaan.

Hal itu dilakukan, selama mereka mau bekerja rajin melakukan penagihan dengan serangkaian tata cara yang telah ditentukan.

Baca juga: INI Penampakan Ruko Tempat Pinjol di Surabaya yang Digerebek Cyber Crime Polda Jatim

"Itu semua yang buat semua tertarik bekerja, sebagai penagih," ungkap Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta di Gedung Humas Mapolda Jatim, Senin (25/10/2021).

Selama menjalankan tugasnya sebagai DC pinjol ilegal. Nico mengungkapkan, para pelaku tersebut juga melakukan mekanisme cara penagihan terhadap para debitur atau nasabah, secara intimidatif.

Yakni mulai dari mengolok pribadi nasabah, dengan penyebutan tidak pantas, dan melanggar etika. Hingga mengancam menyebar foto diri, dan data pribadi milik nasabah.

Tujuannya, mempermalukan para nasabah tersebut agar terdorong untuk segera melakukan serangkaian pembayaran uang pinjol.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved