Kisah Masa Kecil Presiden Jokowi, Suka Iseng Panggil Pedagang Jajanan hingga Jadi Ojek Payung
Kisah masa kecil Presiden Jokowi yang aktif dan nakal. Sering iseng memanggil pedagang makanan yang lewat di depan rumah.
Penulis: Ayu Mufidah | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNMADURA.COM - Joko Widodo atau yang karib disapa Jokowi merupakan Presiden Indonesia yang dikenal akan kesederhanaannya.
Keluarga besar Presiden Jokowi juga diketahui hidup dalam kesederhanaan kendati sudah menyandang sebagai keluarga Orang No 1 di Indonesia.
Kehidupan Presiden Jokowi yang diterapkan selama ini ternyata buah dari masa lalunya.
Jokowi kecil dulunya bukan dari keluarga yang berada.
Ia dan keluarganya merasakan hidup serba terbatas.
Sama seperti anak kecil lainnya, Jokowi saat masa kanak-kanaknya adalah anak yang aktif dan nakal.
Beberapa kali ulahnya membuat sang ibu pusing.
Dulu, Jokowi pernah berbuat nakal.
Baca juga: Melihat Peluang Marsekal Hadi Tjahjanto Masuk Kabinet Jokowi, Sinyal Reshuffle Kabinet Menguat?
Ia sering iseng memanggil pedagang makanan yang lewat di depan rumah.
Tukang siomay, bakso, atau jajanan pasar ia panggil dan memakan makanan tersebut dengan seenaknya.
Sang ibunda hanya bisa pasrah dan terpaksa membayar jajanan apa saja yang telah Jokowi makan.
Suatu ketika, Jokowi salah memanggil pedagang.
Ia pikir, pedagang yang dipanggilnya adalah pedagang jajanan pasar.
Ternyata, Jokowi saat itu memanggil pedagang arang.
"Ibu muncul sebelum saya sempat berlari," kata Jokowi mengenang masa kecilnya.
"Ibu membeli dan langsung menyodorkan bungkusan berisi arang untuk saya makan sambil berkata, 'ayo makan, habisin ya. Kamu kan yang kepingin jajan'," ungkapnya menirukan ucapan sang ibu.

Baca juga: Sinyal Prabowo Subianto Maju di Pilpres 2024, Gerindra Ungkap Soal Alasan Hingga Peluang
Kebahagiaan Jokowi dan keluarganya sempat terusik saat pemerintah daerah setempat memutuskan menggusur warga di bantaran kali.
Jokowi memang dulunya tinggal di bantaran kali karena keterbatasan ekonomi.
Mereka terusir begitu saja tanpa ada perhatian bagaimana kehidupan selanjutnya.
Terpaksa, Jokowi sekeluarga menumpang tinggal di rumah sang paman.
"Keadaan sulit ini memaksa kami berjuang lebih keras. Bapak jadi sopir angkutan umum," tutur dia.
"Setelah sekolah, saya membantu Ibu berjualan di pasar, meneruskan usaha Bapak," ujar Jokowi.
"Kami tidak mengeluh dan saling mengalirkan energi positif," sambungnya.
"Kami berjuang agar tidak lagi menumpang," lanjut dia.
Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudjiatmi,
Jokowi merupakan anak sulung dan putra satu-satunya dari empat bersaudara.
Ia memiliki tiga orang adik perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati.
Jokowi sebenarnya memiliki seorang adik laki-laki bernama Joko Lukito, namun meninggal saat persalinan.
Sebelum berganti nama, Joko Widodo memiliki nama kecil Mulyono.
Meski nakal, Jokowi pernah menjalani masa kecil yang cukup berat.

Tak seperti anak kecil lainnya, Jokowi harus bekerja keras untuk memenuhi kehidupannya.
Bahkan, Jokowi pernah berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul.
Hal itu dilakukannya untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan sehari-hari.
Jokowi menempuh pendidikan di SD Negeri 112 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke bawah.
Bahkan, Jokowi saat itu memilih untuk berjalan kaki saat pergi ke sekolah meskipun teman-temannya menggunakan sepeda.
Tak berhenti di situ, Jokowi kecil juga pernah alami pergusuran rumah sebanyak tiga kali.
"Pada saat saya kecil, rumah saya di pinggir kali, lalu digusur pindah ke tempat kontrakan lain lagi," ujar Jokowi, seperti yang dilansir dari Kompas.com.
Penggusuran yang dialaminya sebanyak tiga kali pada masa kecil mempengaruhi cara berpikirnya dan kepemimpinan kelak setelah menjadi
Wali Kota Surakarta saat harus menertibkan permukiman warga.
Kehidupan Jokowi mulai berubah sejak ia beranjak remaja dan bisa berbisnis.
Mewarisi keahlian bertukang kayu dari ayahnya, ia mulai bekerja sebagai penggergaji pada umur 12 tahun.
Setelah lulus SD, Jokowi kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta.
Ketika ia lulus SMP, ia sempat ingin masuk ke SMA Negeri 1 Surakarta,
Namun, keinginannya itu gagal sehingga pada akhirnya ia masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta.
Setelah lulus SMA, Jokowi diterima di Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
Saat menempuh pendidikan di UGM itulah, Jokowi memanfaatkan untuk belajar struktur kayu, pemanfaatan, dan teknologinya.
Setelah lulus pada 1985, ia bekerja di BUMN PT Kertas Kraft Aceh dan ditempatkan di area Hutan Pinus Merkusii di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah.
Perlahan, Jokowi memulai berkecimpung di dunia politik.
Kancah politik Jokowi terbilang sukses.
Ia dikenal sebagai Wali Kota Surakarta dengan gaya sederhana dan sering melakukan blusukan.
Setelah menjadi Wali Kota Surakarta, Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Belum usai masa baktinya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi mencalonkan diri sebagai Presiden RI pada tahun 2014.
Pencalonannya dalam Pilpres 2014 sukses hingga ia ditetapkan sebagai sebagai Presiden RI.
Pada 2019, Jokowi kembali terpilih sebagai Presiden RI 2 periode.