Berita Surabaya

Inilah Aturan Ibadah Natal di Gereja di Surabaya, Siapkan PeduliLindungi Hingga Kapasitas Jemaat

ada sejumlah teknis yang harus dijalankan oleh Gereja maupun jemaat. Ini dilakukan sebelum beribadah, saat berada di dalam gereja, hingga setelahnya

Penulis: Bobby Koloway | Editor: Aqwamit Torik
Kompas/Muh. Amran Amir
Ilustrasi Gereja - Ribuan umat Katolik, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Selasa (24/12/2019) malam, memadati Gereja Santo Michael untuk mengikuti perayaan ibadah Misa Malam Natal. 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Pemkot Surabaya mengatur teknis protokol kesehatan untuk perayaan Natal di Gereja. Ini sekaligus menindaklanjuti Inmendagri dan SE dari Kementerian Agama. 

Untuk membahas sekaligus menyosialisasikan hal ini, Pemkot menggelar pertemuan secara khusus, Kamis (16/12/2021). Berlangsung secara virtual, acara ini diikuti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Kantor Kementerian Agama, hingga sejumlah Persekutuan Gereja-Gereja di Surabaya.

"Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Kesehatan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPB Linmas) Surabaya Irvan Widyanto dikonfirmasi terpisah, Kamis (16/12/2021).

Dari hasil pertemuan, ada sejumlah teknis yang harus dijalankan oleh Gereja maupun jemaat. Ini dilakukan sebelum beribadah, saat berada di dalam gereja, hingga setelah meninggalkan gereja.

Pertama, penggunaan aplikasi PeduLindungi sebelum masuk ke dalam Gereja. "Serta, hanya jemaat dengan kategori kuning dan hijau yang diperkenankan masuk," kata Irvan.

Berikutnya, jumlah umat yang dapat mengikuti kegiatan Ibadah dan Perayaan Natal juga dibatasi. Apabila secara berjamaah/kolektif, per sesi tidak boleh melebihi lima puluh persen dari kapasitas ruangan.

Kemudian, penyelenggaraan dilakukan secara hybrid (bersamaan daring dan luring). "Bagi jemaah yang berusia 60 tahun ke atas dan ibu hamil/menyusui disarankan untuk beribadah di rumah," katanya.

Waktu pelaksanaan juga dibatasi. Waktu operasional gereja/tempat ibadah Natal paling lambat harus tutup pukul 22.00 WIB.

Bagi jemaah yang beribadah di gereja juga wajib untuk menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker. Dengan pengetatan tersebut, Irvan berharap pelaksanaan ibadah Natal bisa berjalan dengan lancar, tanpa perlu khawatir menimbulkan kluster.

"Prinsipnya, dilakukan secara sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Juga, menekankan persekutuan di tengah-tengah keluarga," katanya.

Sebelumnya, Instruksi Menteri Dalam Negeri

Nomor 66 Tahun 2021 tentang pencegahan dan Penanggulangan Corona Virus Disease 2019 Pada Saat Natal Tahun 2021 Dan Tahun Baru Tahun 2022 telah mengatur hal ini. 

Kementerian Agama (Kemenag) juga menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 33 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19 dalam Pelaksanaan Ibadah dan Peringatan Hari Raya Natal.

Surat edaran tersebut ditandatangani Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada 12 Desember 2021. Yaqut mengatakan, meski PPKM level 3 dibatalkan, masyarakat harus tetap waspada dalam menjalankan aktivitas di tengah pandemi.

Ia menuturkan, panduan diterbitkan dalam rangka mencegah, menanggulangi, dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di gereja, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam perayaan Natal. (bob) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved