Tradisi Aneh Suku di Madagaskar, Bawa Jenazah Menari dan Diarak Berkeliling, Dilakukan Turun Temurun
Suku Merina memiliki tradisi aneh dengan membawa jenazah menari dan berpesta yang dilakukan turun temurun.
Penulis: Ayu Mufidah | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNMADURA.COM - Tradisi aneh sebuah suku di Madagaskar yang dilakukan turun temurun.
Ritual itu dilakukan sejak zaman nenek moyang, yang terus dilestarikan hingga saat ini.
Mereka mengklaim bahwa tradisi itu dapat membuat doa mereka kepada Tuhan lebih cepat terkabul.
Sebuah suku di di dataran tinggi Madagaskar melestarikan sebuah tradisi yang terbilang aneh.
Orang-orang setempat menyebut tradisi atau ritual bernama famadihana.
Melansir dari Medium.com, famadihana adalah ritual suci yang dirayakan oleh suku Merina, yang berdiam di pegunungan Madagaskar.
Festival famadihana juga dikenal sebagai “pembalikan tulang,” yang secara harfiah berarti menggali kuburan dan menari dengan jenazah.
Mereka percaya, jenazah yang dibawanya dapat menjadi perantara suku tersebut dengan Tuhan.
Baca juga: Ritual Kejam Suku Maya Kuno Minta Hujan, Persembahkan Nyawa Demi Senangkan Dewa Air, ini Caranya
Bagi mereka, jenazah nenek moyang mereka adalah media untuk berbicara dengan Tuhan saat mereka memasuki dunia kedua setelah tulang mereka membusuk.
Oleh karena itu, mereka menggali kuburan dan membawa jenazah nenek moyangnya setiap lima sampai tujuh tahun.
Tujuan Famadihana adalah untuk merayakan pesta penuh, minum, menari, dan berbicara dengan leluhur mereka yang sudah meninggal.
Seorang antropolog, Dr Miora Mamphionona mengklaim bahwa arwah para leluhur tetap berada di tengah daratan dan langit hingga jasadnya terurai sempurna.
Ritual itu dimulai hanya ketika salah satu anggota keluarga menyaksikan leluhurnya yang telah meninggal dalam mimpinya.
Menurut orang-orang suku Merina, leluhur yang telah meninggal akan mengunjungi keluarganya dalam mimpi.
Dalam mimpi itu, mereka meminta pakaian baru, makanan, alkohol, dan fasilitas lainnya.
Anggota keluarga kemudian merencanakan perjalanan dua hari untuk melakukan perjalanan bermil-mil jauhnya dari kampung halaman.
Di sana, mereka merayakan pesta dengan orang mati.
Orang-orang lantas akan mengemas makanan, alkohol, dan pakaian baru untuk merayakannya.
Bukan hanya menggali kuburan leluhur, orang-orang juga akan mengganti kain kafan jenazah dengan yang baru.
Setiap anggota keluarga akan menggali kuburan leluhur mereka.
Dengan hati-hati, mereka mengeluarkan jenazah leluhur dari makam.
Leluhur yang sudah meninggal kemudian dibaringkan di tanah dimana kain lamanya dibersihkan dengan kain lembab dan dikeringkan.
Kain sutra baru dililitkan di tubuh mayat setelah kain lama mengering.
Kain sutra diikat erat untuk menjaga keutuhan tubuh leluhur yang telah meninggal.
Setelah itu, barulah jenazah leluhur dapat menikmati pesta.
Meski kembali 'bertemu' dengan jenazah leluhur, tidak ada raut kesedihan pada wajah anggota keluarga.
Mereka justru menyambut jenazah dengan suka cita.
Famadihana membawa kebahagiaan dan berkah yang luar biasa bagi masyarakat suku itu.
Selanjutnya, setiap keluarga suku Merina mengangkat mayat leluhur mereka sambil menari mengikuti irama lagu.
Orang-orang suku Madagaskar sangat percaya pada konsep akhirat.
Itulah sebabnya mereka memperbarui utilitas di dalam kuburan leluhur mereka yang telah meninggal setiap tujuh tahun.
Mereka ingin meringankan kehidupan kedua orang yang meninggal di alam kubur.
Caranya, dengan memberikan segala sesuatu yang bisa memudahkan jenazah di akhirat.