Berita Surabaya

Modus Nekat Pengedar Sabu di Surabaya, Pakai WhatsApp Jadi Sarana, Terungkap Bukan Amatiran

Pelaku sudah menjalankan bisnis penjualan serbuk kristal memabukkan tersebut, sekitar kurun waktu enam bulan

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Aqwamit Torik
AFP
Ilustrasi penangkapan yang dilakukan polisi menggunakan borgol 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Tim Antibandit Polsek Sukomanunggal Polrestabes Surabaya menangkap Joko Susilo (40) lantaran menyimpan sabu-sabu seberat 2,55 gram yang dikemas dalam tujuh poket plastik kecil, dalam saku celananya. 

Kanit Reskrim Polsek Sukomanunggal Polrestabes Surabaya Ipda Jumeno Warsito mengungkapkan, pelaku disergap di kawasan Jalan Sememi Jaya IV, Surabaya, Rabu (12/1/2022) malam. 

Saat itu, pelaku hendak menjual barang haram tersebut ke seorang kenalannya sebagai pembeli. 

Ternyata, seusai diinterogasi, pelaku sudah menjalankan bisnis penjualan serbuk kristal memabukkan tersebut, sekitar kurun waktu enam bulan.

Modusnya, ungkap Jumeno, pelaku biasa menggunakan metode 'ranjau'. 

Meletakkan barang sabu secara acak di suatu tempat, dan hanya si pembeli yang diberitahu letak keberadaannya, secara khusus. 

Akibat perbuatannya, pelaku bakal dijerat Pasal 114 ayat 1 juncto 112 ayat 1 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara.

"Tersangka dapat sabu dari jaringan (pengedar) di salah satu lapas di Jatim. Sistemnya ranjau,” ujarnya saat dihubungi awak media, Minggu (23/1/2022). 

Joko Susilo, memang bengalnya, bukan main.

Ternyata penangkapannya atas dugaan tindakan kejahatan ini, bukan yang pertama kali. 

Beberapa tahun lalu, ia sudah pernah merasakan dinginnya mendekam di tahanan, dua kali. 

Informasinya, warga Sememi, Benowo, Surabaya itu, pernah mendekam beberapa tahun di Lapas Madiun, karena kejahatan narkotika. 

Selepas merampungkan masa tahanan dan dinyatakan bebas pada Maret 2018. Tak lama kemudian, ia membuat ulang dengan melakukan aksi kejahatan penipuan berkedok layanan penyalur pekerja. 

Modusnya, terbilang nekat.

Ia membuat layanan penyalur pekerja dalam sebuah lowongan pekerjaan, dengan menyatut foto, logo dan simbol instansi Konjen Amerika Serikat, pada bagian foto WhatsApp (WA). 

Kasusnya, sampai membuat anggota Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim, turun tangan. Ia akhirnya dicokok untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 

"Dia sudah tiga kali ini (masuk penjara)," pungkas Jumeno.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved