Berita Tuban

Nestapa Kampung Miliarder yang Viral di Tuban, Kini Rela Jual Sapi Demi Dapat Sesuap Nasi

Pria warga kampung miliarder di Tuban ini menyesal jual lahannya ke Pertamina, akibatnya kini demi bisa makan rela jual ternaknya

Penulis: Mohammad Sudarsono | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Muhammad Sudarsono
(kiri) Musanam, warga Desa Wadung, Kecamatan Jenu, Tuban atau kampung miliarder, (kanan) dan aksi warga enam desa di kilang minyak pertamina GRR Tuban 

TRIBUNMADURA.COM, TUBAN - Nasib warga kampung miliarder di Kecamatan Jenu, Tuban yang dulu warganya terkenal karena banyak yang beli mobil karena kaya mendadak.

Kini, nasib mereka malah ada yang terkatung-katung pasca lahannya terjual .

Diketahui, ada dari warga kampung miliarder Tuban yang hanya bergantung dari jual ternak demi bisa makan.

Sempat mendapat rezeki nomplok dari ganti rugi penjualan lahan untuk proyek kilang minyak pertamina grass root refinery (GRR) di kecamatan setempat, kini kabar tak mengenakkan datang. 

Hal itu diketahui saat unjuk rasa warga enam desa di ring perusahaan patungan Pertamina dan Rosneft asal Rusia, Senin (24/1/2022). 

Baca juga: Selama ini Dipendam, Ririe Fairus Bongkar saat Pergoki Ayus Selingkuh, Sebut Jahatnya Orang Terdekat

Di antaranya Desa Wadung, Mentoso, Rawasan, Sumurgeneng, Beji dan Kaliuntu, Kecamatan Jenu. 

Seorang lelaki tua, Musanam, warga Desa Wadung, mengaku menyesal telah menjual tanah dan rumahnya ke PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PT PRPP) setahun lalu. 

Kini kakek yang berusia 60 tahun itu sudah tidak lagi memiliki penghasilan tetap, sebagaimana setiap masa panen. 

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, iapun terpaksa harus menjual sapi ternaknya. 

"Sudah tak jual tiga ekor untuk makan dan kini tersisa tiga," ujarnya di sela-sela aksi demo.

Hal lain juga disampaikan Mugi (60), warga kampung miliarder lainnya. 

Usai menjual tanah seluas 2,4 hektare ke perusahaan plat merah tersebut, kini ia kesulitan mendapatkan penghasilan setiap panen. 

Jika biasanya bisa mendapat Rp 40 juta saat panen, sekarang sudah tak lagi mendapat hasil tersebut. 

"Dulu lahan saya tanami jagung dan cabai, setiap kali panen bisa menghasilkan Rp 40 juta. Kini tak lagi memiliki penghasilan, setelah menjual lahan," ungkapnya. 

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved