Breaking News:

Berita Mojokerto

Buat Laporan Palsu, Mengaku Kehilangan Uang Rp150 Juta, Guru SD Ini Makan Uang Pensiunan Ortunya

Berdasarkan hasil penyelidikan Kepolisian ternyata guru PNS warga Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo tersebut membuat laporan palsu

Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Samsul Arifin
kompas
Ilustrasi uang tunai 

TRIBUNMADURA.COM, MOJOKERTO - Terungkap motif Sri Wahyuliati Ningsih (42) guru SD yang mengaku menjadi korban perampokan uang senilai Rp.150 juta di jembatan Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Berdasarkan hasil penyelidikan Kepolisian ternyata guru PNS warga Dusun/Desa Jiken, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo  tersebut membuat laporan palsu.

Dia mengarang cerita lantaran uang dari orang tuanya yang merupakan hasil pensiunan ayahnya habis untuk keperluan pribadi.

Sebelumnya, Sri Wahyuliati mengaku menjadi korban perampokan empat orang usai mengambil uang Rp.150 juta di jembatan Jembatan Desa Tanjangrono, Ngoro, Mojokerto pada Senin (21/02/2022) kemarin.

Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP Andaru Rahutomo mengatakan hasil penyelidikan terungkap laporan palsu tersebut digunakan sebagai kedok untuk menutupi rasa takut dan malu terhadap ayahnya lantaran uang Rp. 150 juta yang dititipkan telah habis untuk kepentingan pribadi.

"Kita lakukan penyelidikan ada yang janggal ternyata yang bersangkutan ini malu karena tiga tahun lalu korban diberi uang oleh orang tuanya Rp.150 juta, namun saat ditanya korban malu tidak bisa mengembalikan sehingga korban mengarang cerita dan membuat laporan palsu,” ungkapnya, Jumat (25/02/2022).

Baca juga: Bawa Banyak Uang, Jutawan di Mojokerto Jadi Korban Tabrak Lari, Meninggal Dunia usai Ditabrak Truk

Menurut dia, korban yang merupakan guru SD di Kecamatan Ngoro ini nekat membuat laporan palsu perampokan lantaran uang Rp.150 juta yang didepositokan di Bank Jatim Cabang Ngoro sejak tiga tahun lalu telah habis. 

"Uang ratusan juta itu sudah habis untuk keperluan pribadi si guru ini misalnya membeli motor, perabot dan  kebutuhan rumah tangga lainnya," jelasnya.

Laporan palsu tersebut melanggar Pasal 220 KUHP tentang Laporan Palsu dengan ancaman penjara maksimal satu tahun empat bulan. 

Namun pihak Kepolisian mempertimbangkan secara Restorative Justice dan meminta yang bersangkutan  membuat permintaan maaf secara terbuka pada kepolisian dan orang tuanya. 

”Sebenarnya membuat laporan palsu ini bisa dipidanakan namun kita melihat  adalah permasalahan keluarga, orang tua yang bersangkutan juga meminta kami untuk tidak memproses kasus ini,” ucap Andaru.

Seperti yang diberitakan, seorang PNS mengaku menjadi korban perampokan uang senilai Rp.150 juta di jembatan Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokertom

Korban mengarang cerita dirampok empat orang mengendarai motor Honda Vario warna hitam dan Yamaha RX King warna hitam, Senin (21/2/2022).

Berdasarkan fakta penyelidikan dari Kepolisian ternyata PNS guru SD bernama Sri Wahyuliati Ningsih (42) warga Dusun/Desa Jiken, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo tersebut membuat laporan palsu

Hasil keterangan yang bersangkutan telah kehilangan uang Rp.150 juta namun setelah dilakukan penyelidikan ternyata korban tidak mengalami hal tersebut

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved