Sejarah

Deretan Hidangan yang Dianggap Remeh ini Ternyata Peninggalan Kerajaan yang Istimewa

Hidangan yang dianggap remeh itu ternyata pada zaman kerajaan menjadi hidangan yang istimewa dan tak boleh ditinggalkan

Editor: Aqwamit Torik
Wikimedia Commons/M Yusril Mirza
Candi Plaosan di Kabupaten Klaten wujud akulturasi budaya Hindu dan Buddha peninggalan Kerajaan Mataram Kuno 

TRIBUNMADURA.COM - Seiring perkembangan zaman dan kuliner di Indonesia, ternyata membuat sebagian hidangan yang dulunya istimewa kini terpinggirkan.

Hidangan yang dianggap remeh itu ternyata pada zaman kerajaan menjadi hidangan yang istimewa.

Satu di antaranya adalah ikan asin.

Ikan asin merupakan lauk khas di Indonesia.

Masyakarat Indonesia di berbagai daerah tentunya sudah sangat akrab dengan ikan asin.

Biasanya, lauk yang satu ini disantap bersama nasi dengan hidangan lainnya seperti sambal terasi, tahu dan tempe, tumis kangkung, hingga sayur asem.

Cita rasanya menggugah selera, tetapi ikan asin juga sering dianggap makanan 'tak berkelas'.

Tahukah kamu jika ikan asin sudah ada sejak zaman Mataram Kuno, menjadi komoditas yang diperdagangkan di masa itu, hingga jadi sajian dalam upacara-upacara besar?

Baca juga: Bolehkah Ibu Positif Covid-19 Memberikan Asi Kepada Bayi? Ini Penjelasan dan Panduan dari Kemenkes

Titi Surti Nastiti, seorang Arkeolog Indonesia, mengungkap banyak hal terkait aktivitas ekonomi dan sosial masyakarat Mataram Kuno lewat bukunya yang berjudul "Pasar di Jawa: Masa Mataram Kuno Abad VIII-XI Masehi".

Ia mengungkapkan berbagai hal terkait aktivitas masyarakat di pasar pada masa Mataram Kuno.

Diantaranya terkait komoditas yang diperdagangkan di pasar, salah satunya yaitu ikan asin.

Disebut bahwa saat itu, masyarakat Mataram Kuno sudah menjadikan ikan asin menjadi salah satu komoditas yang kerap diperdagangkan di pasar-pasar di Jawa.

"Jenis ikan yang diasinkan atau dendeng ikan, terutama jenis-jenis ikan laut seperti ikan kembung, ikan kakap, ikan tenggiri," tulis Titi merujuk kepada isi Prasasti Pangumulan A yang berangka tahun 824 saka atau 902 Masehi.

Titi juga mengungkapkan, istilah ikan asin yang dikeringkan disebut grih atau dendain.

Halaman
12
Sumber: Intisari
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved