Ramadan 2022

Tradisi Polok'an di Ponpes Darunnajah Lumajang, Buka Puasa Beralaskan Daun Pisang, 'Kebersamaan'

Mereka menyantap nasi makanan tak menggunakan piring, melainkan menggunakan plastik dan daun pisang

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Samsul Arifin
ISTIMEWA/TRIBUNMADURA.COM
Asyiknya para santri Pondok Pesanten Darunnajah menyantap menu berbuka puasa dengan tradisi polok'an. 

TRIBUNMADURA.COM, LUMAJANG - Manis memang rasanya jika Magrib dikumandang, di atas meja sepasang mata melihat ada ragam menu berbuka yang manis-manis.

Seperti semangkok kolak, sepiring nasi uduk, sepotong semangka, segelas es blewah, dan gorengan. Rasanya dahaga dan lapar hilang setelah  kerongkongan basah. 

Seperti itu lah gambaran ketika menu berbuka puasa yang paling dicari banyak orang. Di beranda Google ragam masakan di atas mungkin jadi menu anjuran berbuka puasa.

Anjuran menu berbuka yang manis-manis. Tapi jika dimaknai lebih dalam, yang manis-manis itu ternyata bukan hanya soal rasa, boleh juga perihal cara. 

Seperti ketika melihat santri-santriwati berbuka puasa di Pondok Pesantren Darunnajah di Desa Petahunan, Kecamatan, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang. Menu berbuka mereka terbilang seadanya. Seperti ikan asin, goreng tempe, dadar telur.

Baca juga: Menilik Pondok Pesantren Salafiyah Kapurejo Kediri, Saksi Bisu Perjuangan KH Hasyim Asyari

Makanan ini mereka santap secara rame-rame. Mereka menyantap nasi makanan tak menggunakan piring, melainkan menggunakan plastik dan daun pisang. Nasi dan lauk pauknya ditaruh di atas daun pisang, lalu tangan-tanganlah yang kemudian berfungsi sebagai sendok, mereka sebut makan polok’an. 

Memang ketika para santri maupun santriwati berbuka terlihat sangat menikmati makanan.

Meski ragam masakan sekedarnya dan beralas daun pisang, mereka merasa seperti berbuka dengan menu mewah. Setiap polok'an terlihat raut wajah syukur dari mereka. Pokoknya tidak kalah seru dengan acara buka bersama anak milineal yang diadakan di restroran.

"Alhamdulillah ini sudah enak," kata Ridho salah seorang santri. Kemudian, usai melahap makanan berbuka para santri-santriwati selanjutnya melaksanakan ibadah sholat taraweh dan tadarus.

Kiai Haji Muhammad Khozin Barizi pendiri Pondok Pesantren Darunnajah mengatakan, selama 27 tahun pondok ini berdiri tradisi makan polok'an memang sering dilakukan para santri ketika bulan Ramadhan.

Banyak manfaat dapat diambil dari kebiasaan polok'an. Kebersamaan dan kekompakan merupakan wujud nyata. Lebih dari itu, ternyata menurut Rasulullah makan bersama-sama atau yang dilakukan secara berjamaah lebih memungkinkan mendatangkan keberkahan.

"Memang ini tradisi yang tidak bisa terlepas dari pondok pesantren untuk membangun solidaritas kebersamaan satu santri dengan yang lainnya. Bahwasanya mereka hidup bersama, sama-sama jauh dari orang tua. Ya saudaranya teman pondok itu," pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved