Berita Surabaya

Pemkot Surabaya Antisipasi Penyebaran Hepatitis Akut Lewat Pendekatan Keluarga, ini yang Dilakukan

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Nanik Sukristina mengimbau masyarakat agar tetap tenang. Namun, tetap melakukan pencegahan

Penulis: Bobby Koloway | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Bobby Koloway
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Nanik Sukristina saat meninjau salah satu Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Surabaya. 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya hingga saat ini belum menemukan kasus hepatitis akut di Surabaya. Meski demikian, sejumlah antisipasi terus dilakukan. 


Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Nanik Sukristina mengimbau masyarakat agar tetap tenang. Namun, tetap berhati-hati dan konsisten melakukan pengecegahan.


Ia berpesan agar masyarakat tetap menerapkan PHBS secara konsisten dalam berkegiatan sehari-hari dan di lingkungan tempat tinggal. Mulai mencuci tangan dan meminum air bersih yang matang dan makan makanan bersih dan matang penuh.


"Juga, membuang tinja dan/ atau popok sekali pakai pada tempatnya. Lalu, menggunakan alat makan sendiri-sendiri serta memakai masker dan menjaga jarak," katanya. 


Hingga saat, pihaknya telah menyiagakan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Baik puskesmas, rumah sakit, dan seluruh fasilitas lainnya. 
 
Bagi setiap rumah sakit, Dinkes Surabaya meminta agar melakukan pengamatan semua kasus sindrom jaundice akut yang tidak jelas penyebabnya. "Masing-masing kasus harus ditangani sesuai SOP serta pemeriksaan laboratorium," kata Nanik di Surabaya, Rabu (11/5/2022). 


 Pihaknya juga menyiapkan pengajian data rumah sakit atau Hospital Record Review (HRR) terhadap Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya. Ini dilakukan sejak tanggal 01 Januari 2022.


"Kami minta untuk melaporkan segera jika ada penemuan kasus potensial sesuai indikasi kasus tersebut," jelas Nanik.


Sedangkan bagi setiap Puskesmas, Kadinkes meminta agar seluruhnya melakukan penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat. Juga, upaya pencegahan melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten dalam berkegiatan sehari-hari dan di lingkungan tempat tinggal.


"Selain itu, juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk segera mengakses Fasyankes (Puskesmas setempat) apabila mengalami sindrom jaundice," ujar dia.


Puskesmas juga memantau dan melaporkan kasus sindrom jaundice akut secara rutin melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Baik untuk gejala yang ditandai dengan kulit dan sklera berwarna ikterik atau kuning dan urin berwarna gelap yang timbul secara mendadak.


Jejaring kerja surveilans lintas program dan lintas sektor di masing-masing wilayah kerja juga diperkuat. "Segera memberikan notifikasi (pelaporan melalui SKDR) apabila terjadi peningkatan kasus sindrom jaundice akut maupun penemuan kasus ke Dinkes Kota Surabaya," terang Nanik. 
 
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, selain fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan pengawasan, peran para orang tua dinilainya juga penting dalam mencegah hepatitis akut. Karenanya, ia mengajak para orang tua agar lebih peka terhadap kondisi kesehatan anak-anaknya.


"Saya nyuwun (minta) tolong kepada para orang tua, mohon dijaga kesehatan putranya. Salah satunya kalau bermain diawasi, makanannya juga diawasi, jangan sampai terlambat," kata Wali Kota Eri Cahyadi, Rabu (11/5/2022).


Selain itu, Wali Kota Eri juga berharap kepada para orang tua agar ketika anaknya mengalami gejala sakit, supaya segera diperiksakan. Ia pun tak ingin karena terlambat mendapatkan penanganan, anak tersebut sakitnya semakin parah.


"Kalau anak-anak kan gak ngeroso (tidak terasa), moro-moro dadi loro (tiba-tiba jadi sakit). Jadi, peran orang tua sangat kami harapkan untuk mencegah hepatitis," ujarnya.


Adapun sejumlah ciri-ciri anak yang terjangkit hepatitis akut di antaranya yakni, mengalami penurunan kesadaran, pyrexia (demam tinggi), muncul perubahan warna urin (gelap) dan/ atau feses (pucat), Jaundice (terjadinya perubahan warna menjadi kekuningan pada kulit, bagian putih dari mata, dan juga membran mukosa anak) dan pruritis (gatal pada kulit).


Selain itu, ciri lain adalah arthralgia/ myalgia (nyeri sendi atau pegal-pegal). Kemudian mual, muntah, atau nyeri perut serta lesu, dan/ atau hilang nafsu makan dan diare. (bob) 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved