Kamis, 16 April 2026

Berita Bangkalan

Kualitas Daging Sapi Madura Dinanti, Banyak yang Sehat Kendati Kasus Wabah PMK Terus Meningkat

hingga saat ini permintaan sapi sebenarnya masih ada seperti Jakarta dan Jawa Tengah. Namun mayoritas para peternak merasa khawatir dalam perjalanan

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Samsul Arifin
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
Nur Hakim (31), peternak sapi asal Desa Bandung, Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan ketika hendak mengirimkan sapi-sapinya ke Kalimantan Barat melalui Pelabuhan Telaga Biru, Kecamatan Tanjung Bumi jelang Lebaran Kurban tahun 2021 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Mendekati perayaan Hari Raya Idul Adha atau Lebaran Kurban, kasus harian suspek atau diduga terpapar virus penyakit mulut dan kaki (PMK) terhadap sapi-sapi di Kabupaten Bangkalan terus bertambah. Namun hal tersebut tidak terlalu membuat panik para peternak sapi dan kambing.

Update Status Terkini PMK di Kabupaten Bangkalan per 14 Juni 2022 mencatat, tambahan kasus sapi suspek terdata sejumlah 213 ekor dari total pemantauan sejumlah 248 ekor sapi. Total sapi suspek PMK sejauh ini sejumlah 3.143 ekor dari keseluruhan 7.202 ekor sapi yang diperiksa.   

Sekedar diketahui, populasi sapi Bangkalan terus meningkat dalam setiap tahunnya. Data yang dihimpun Surya dari Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan, hingga tahun 2021 mencapai 276.476 ekor. Tahun 2020 populasi sapi berada pada kisaran 259.923 ekor dan sebanyak 247.437 ekor di tahun 2019.

Peternak sapi-kambing, Syahril Abdillah (28), warga Desa Daleman, Kecamatan Galis mengungkapkan, pihak Balai Karantina lebih selektif dan tidak mempersulit para peternak dalam pengurusan administrasi pengiriman sapi untuk kebutuhan hewan kurban menjelang Idul Adha.

“Di Bangkalan masih banyak sapi sehat. Apabila telah dinyatakan sehat dan memenuhi syarat, peternak mengingatkan agar tidak mempersulit. Karena bagi kami, momentum Idul Adha adalah momen panen raya, menghidupkan ekonomi masyarakat bawah,” ungkap Syahril kepada Surya, Selasa (14/6/2022).

Ia menjelaskan, hingga saat ini permintaan sapi sebenarnya masih ada seperti Jakarta dan Jawa Tengah. Namun mayoritas para peternak merasa khawatir ketika dalam perjalanan, sapi-sapi yang dikirim kondisinya fisiknya menurun hingga akhirnya dinyatakan suspek PMK.

“Pengiriman jangan dipersulit karena SOP sudah jelas, boleh kan mengirim ke daerah yang sama-sama terpapar wabah?. Bukan rahasia lagi, hampir seluruh daerah di Indonesia terpapar (PMK).  Jadi jangan mempersempit ruang gerak ekonomi masyarakat bawah,” pungkasnya.

Selain populasi sapi yang melimpah, daging sapi Madura termasuk Bangkalan adalah kualitas terbaik di Jawa Timur. Secara nasional, hanya kalah dari daging sapi Bali. Daging sapi Madura berwarna merah cerah, empuk, berserat halus, dan rendah lemak. Produksi daging sapi Bangkalan di tahun 2019 mencapai 15.809 ton.

Keunggulan lainnya, karkas (berat daging sapi tanpa kepala, kaki, jeroan, dan kulit) sapi Madura mencapai 48 persen dari berat tubuhnya. Sedangkan karkas sapi asal Bali mencapai angka 51 persen dari berat tubuhnya. Sementara sapi dari daerah lain di Pulau Jawa, berat karkasnya hanya 45 persen.

Karena itu, daging sapi asal Madura termasuk Kabupaten Bangkalan menjadi prioritas bagi masyarakat karena keunggulan kualitas dagingnya. Seperti yang disampaikan Nur Hakim (31), peternak sapi asal Desa Bandung, Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan.

“Jalur sutra pengiriman sapi-sapi saya ke Kalimantan Barat, seperti ke Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, hingga Kabupaten Singkawang. Biasanya momen seperti ini, saya mengirim 40 hingga 50 ekor sapi. Tetapi sekarang macet meskipun pemesanan masih ada. Seandainya bisa masuk ya pasti laku,” ungkap Hakim.  

Ia kemudian mengkritisi langkah pemerintah yang lamban dalam upaya mensosialisasikan secara masif bahwa daging aman untuk dikonsumsi meskipun kondisi seekor sapi telah dinyatakan positif terkonfirmasi PMK.   

“Selain macet karena aturan, ada dampak secara psikologis di benak masyarakat yang enggan membeli sapi untuk kebutuhan kurban. Sosialisasi kehigienisan daging sapi di tangan wabah PMK sangat minim. Tetapi yang paling berperan hingga tersendatnya pengiriman yakni regulasinya,” pungkas Hakim. 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved