Pencabulan Santri Jombang

Sidang Agenda Eksepsi Terdakwa Mas Bechi melalu Kuasa Hukumnya Keberatan Sidang Online dan Dakwaan

Kepada awak media anggota Tim Kuasa Hukum Mas Bechi, Rio Rama Baskara mengatakan, ada dua poin bantahan yang telah disampaikannya

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Samsul Arifin
TribunMadura.com/Luhur Pambudi
KEBERATAN - Suasana Sidang Eksepsi terdakwa MSAT atau Mas Bechi di Ruang Sidang Cakra PN Surabaya, Senin (25/7/2022). Mas Bechi melalui kuasa hukumnya mempermasalahkan ini dalam sidang eksepsi 


"Ada uraian terkait peristiwa di mana peristiwa loncat-loncat. Ada peristiwa tanggal 7 jam 10 lalu loncat ke jam 11. Ceritanya Gus Bechi itu memberikan pengarahan selama 4 jam tapi uraian peristiwa 4 jam itu ilang disitu dia loncat ke peristiwa 10 hari kemudian di jam 23.30 kalau di logika itu berarti ada wawancara di jam 14.30 WIB. Dakwaan gak jelas," pungkasnya. 


Sebelumnya, seusai pelaksanaan sidang perdana agenda pembacaan dakwaan pada Senin (18/7/2022) pekan lalu. 


Pihak kuasa hukum MSAT menyampaikan sejumlah keberatan usai mendengar rentetan dakwaan yang telah dibacakan oleh pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU). 


Bahwa rentetan dakwaan tersebut, dianggap oleh Ketua Tim Kuasa Hukum MSAT, I Gede Pasek Suardika, terbilang sumir. 


Pasalnya, ada urutan proses pemberkasan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sejak kasus tersebut dilaporkan pertama kali, yang tidak logis, dengan generalisasi dugaan pasal yang disangkakan. 

Kumpulan Berita Lainnya seputar Mas Bechi

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com


Yakni pada tahapan saat pertama kali insiden dugaan kekerasan seksual itu dilakukan oleh terdakwa, lalu waktu pertama kali laporan kepolisian kasus itu dibuat, dan mekanisme visum pembuktian kekerasan anak seksual dari korban, dilakukan dalam tenggat waktu yang terbilang lama. 


"Karena peristiwa Mei 2017, melaporkan akhir 2019, jadi 2 tahun lebih baru dilaporkan. Hasil visumnya beberapa tahun setelah peristiwa," ujarnya saat dikerumuni awak media di lorong Kantor PN Surabaya, Senin (18/7/2022) kemarin. 


"Pikirkan secara logika, beban itu jadi konsumsi umum jadi peradilan opini kayaknya kasusnya kayak di tempat lain. Mas Bechi ini diadili secara opini seperti peristiwa di tempat lain, padahal beda sekali. (Korban) hanya 1 yang sudah usia dewasa, yang mengaku, dan peristiwanya Mas Bechi bilang gak ada peristiwa itu. Saya gamau hanya baca dakwaan saya mau cek locus delicti seperti apa," tambahnya. 


Selain itu, lanjut I Gede Pasek, tuduhan pemerkosaan terhadap kliennya sangat tidak logis. 


Karena, merujuk pada surat dakwaan yang telah dibaca dan didengarkannya saat sidang berlangsung, korban melepas sendiri pakaian yang dikenakannya. 


Artinya, tuduhan atas pemerkosaan itu telah gugur. Karena, jika konteks kasus tersebut adalah upaya paksa berupa pemerkosaan, maka mustahil seorang korban pemerkosaan membuka sendiri pakaiannya dihadapan pihak tersangka. 


"Saya ingin menggambarkan di dakwaan ada 2 peristiwa kita uji. Peristiwa ke-1, jam 11 siang. satunya (peristiwa ke-2) jam 2.30 dini hari. Nanti kita lihat lokasinya, masuk akal gak peristiwa yang disebutkan itu," ungkapnya. 


"Baca saja dakwaannya. Kalau dakwaannya seperti itu, masuk pemerkosaan atau tidak. Ada satu hal kalimat dalam dakwaan. Katanya yang bersangkutan memperkosa, tapi buka baju sendiri," pungkasnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved