Berita Surabaya

Sungai di Surabaya Berselimut Busa, Wali Kota Eri Cahyadi Angkat Bicara Soal Kemungkinan dan Sanksi

Fenomena munculnya busa di Sungai Kalisari Damen, Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya, Selasa (2/8/2022) disebut bukan sekadar limbah rumah tangga.

Penulis: Bobby Koloway | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Bobby Koloway
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi 

"Kalau dari (sanksi) peringatan 1, 2, hingga 3 tidak dilakukan, ya wajib ditutup," katanya.

Selain IPAL skala perusahaan, Mas Eri menjelaskan terbuka peluang untuk membangun IPAL skala kota.

Bukan dengan anggaran APBD Kota, namun dengan CSR perusahaan.

"Sebab, itu tanggungannya perusahaan. (Pemerintah) kota punya perencanaan itu, tapi (anggaran) tidak bisa ditanggung pemerintah," katanya.

Ia mencontohkan pembangunan Underpass Mayjend Sungkono yang diresmikan 2019 lalu.

Melibatkan 19 pengembang swasta, underpass ini sebagai pengurai kemacetan akses dari dan menuju Surabaya Barat.

"Waktu saya di Bappeko, saya menggerakkan seluruh investor untuk membuat underpass. Akhirnya, mereka sepakat, dan membangun," katanya.

"Agar tak ada fitnah, mereka menentukan kontraktor nya dan baru diserahkan ke Pemkot. Ipal pun juga gitu. Ini yang tengah menjadi wacana," kata mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya era Wali Kota Tri Rismaharini ini.

Sebelumnya, Busa berwarna putih terhampar menutupi permukaan air di Sungai Kalisari Damen, Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya, Selasa (2/8/2022).

Diketahui, fenomena yang terjadi di Rumah Pompa Boezem Kalidami ini juga viral di media sosial. DLH Surabaya pun telah melakukan pemeriksaan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro mengatakan bahwa busa tersebut muncul karena terjadinya turbulensi atau pengadukan dari proses pemompaan pada jam-jam tertentu.

“Penyebab busa tersebut adalah limbah cair kegiatan dari rumah tangga yang langsung dibuang ke sungai. Antara lain, minyak goreng, lemak, air bekas cucian baju dan cucian dapur, dan sebagainya,” kata Hebi.

Setelah turbulensi tersebut berhenti, bui atau busa di sungai akan berhenti. “Ini karena proses pemompaan saja. Maka IPAL komunal itu sebagai solusi untuk sanitasi atau pengolahan air limbah,” ujar dia.

Hebi menjelaskan, pada saat musim kemarau debit air yang sedikit menyebabkan polutan tersebut berkonsentrasi besar di sungai. Sedangkan, pada saat musim hujan konsentrasi polutan menjadi kecil, karena terjadi pengenceran air hujan. 

“Kita koordinasikan dengan OPD lain untuk membuat IPAL rumah tangga komunal, sebelum masuk ke badan sungai,” pungkasnya. (bob) 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved