Berita Lumajang

Pengemis dan Gelandangan di Lumajang Ngeyel-ngeyel, Dinsos Sebut Mentalitas Telah Rusak Merasa Mudah

masyarakat nekat menjadi pengemis atau gelandang karena mentalitasnya telah rusak akibat merasa mudah mencari uang hanya dengan cara menadahkan tangan

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Samsul Arifin
Shutterstock.com
Banyak warga di Lumajang nekat menjadi pengemis atau gelandang karena mentalitasnya telah rusak akibat merasa mudah mencari uang hanya dengan cara menadahkan tangan 

TRIBUNMADURA.COM, LUMAJANG - Keberadaan pengemis dan gelandangan hingga saat ini masih menjadi tugas berat Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lumajang. Dinsos mengaku pengemis di Lumajang ngeyel. Karena mentalnya lebih enak menadahkan tangan.

Sebab, belakangan ini pengemis dan gelandangan makin menjamur di beberapa titik lampu merah. Seperti halnya di perempatan Klojen, perempatan Toga, atau pun perempatan Suwandak.

Keberadaan mereka hingga saat ini masih cukup sulit ditangani. Parahnya lagi, tidak sedikit juga pengemis dan pengamen yang masih berusia produktif. Bahkan, ada juga  yang masih anak-anak yang seharusnya sibuk bersekolah.

Kepala Dinas Sosial Dewi Susiyanti mengakui, mengatasi pengemis dan gelandangan memang bukan perkara mudah. Sebab, pengemis dan gelandangan selalu kembali ke jalan meskipun berulang kali terkena razia.

"Penyebab banyaknya pengemis dan gelandangan karena merasa mencari uang di jalan lebih mudah ketimbang kerja. Ada pasangan pengemis sudah berkali-kali ditangkap, tapi ya masih kembali mengemis. Padahal, mereka terdaftar menjadi penerima bantuan PKH," kata Dewi.

Menurut Dewi, motif pengemis dan gelandangan tak pernah jera mencari rezeki dengan cara menadahkan tangan bukan hanya karena motif ekonomi saja.

Apabila diurai alasan masyarakat nekat menjadi pengemis atau gelandang karena mentalitasnya telah rusak akibat merasa mudah mencari uang hanya dengan cara menadahkan tangan.

Sementara di kota ini belum ada tempat pelatihan kerja untuk menangani masyarakat yang mengalami masalah sosial.

"Di Dinsos itu hanya ada rumah aman, bukan tempat seperti liponsos. Kalau liponsos bisa dijadikan untuk membina mental mereka. Rumah aman itu fungsinya hanya seperti griya lansia," ujarnya.

Baca juga: Pengakuan Kakek Pengemis Sawer Biduan yang Kini Ditangkap Satpol PP, Guna Hasil Ngemis Diungkap

Kumpulan Berita Lainnya seputar Lumajang

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

Dewi berencana ke depan akan melakukan pembinaan mental secara intensif. Langkah pertama yakni melakukan pendekatan terhadap keluarga pengemis atau gelandangan. Lalu, mereka akan dibekali keterampilan.

Sehingga gelandangan atau pengemis ke depan bisa hidup mengandalkan kemampuannya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved