Berita Malang

Guru Tari Lampiaskan Nafsu Bejatnya ke Belasan Anak Didik, Modus Ritual Jaranan, kini Terima Hukuman

terdakwa Yahya Ramadhani (37), warga Kota Malang mendekam di penjara dalam waktu yang lama, usai cabuli belasan anak didiknya

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Aqwamit Torik
Humas Kejari Kota Malang
Guru tari cabul, Yahya Ramadhani (37), saat mengikuti jalannya sidang vonis secara daring dari Lapas Kelas I Malang, kini menerima hukuman berat 

TRIBUNMADURA.COM, MALANG - Guru tari cabul di Kota Malang akhirnya mendapatkan vonis hukuman penjara.

Diketahui, beberapa waktu lalu seorang guru tari melakukan pencabulan terhadap sejumlah anak didiknya di Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Kini, terdakwa Yahya Ramadhani (37), warga Kelurahan Gadingkasri Kecamatan Klojen Kota Malang mendekam di penjara dalam waktu yang lama. 

Pasalnya, terdakwa telah dijatuhi vonis pidana penjara selama 15 tahun oleh majelis hakim.

Baca juga: Pulang Ngaji, Bocah SD Jadi Korban Aksi Bejat dan Diseret ke Semak, Ayah dengar Suara Mencurigakan

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunMadura.com

Selain pidana penjara, terdakwa juga harus membayar denda sebesar Rp 1 miliar subsider kurungan selama enam bulan.

Vonis tersebut dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim Sri Haryani, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Kelas I A Malang (PN Malang) pada Senin, (8/8/2022) siang.

Untuk terdakwa, mengikuti jalannya persidangan secara daring dari Lapas Kelas I Malang.

Dalam putusannya, Sri Haryani menyampaikan bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan, telah melanggar dakwaan yang dibacakan oleh JPU sebelumya. Yakni, sesuai dengan Pasal 81 ayat (2) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang - Undang Juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

"Untuk hal yang meringankan, terdakwa memiliki anak dan menjadi tulang punggung keluarga, mengakui perbuatan dan menyesalinya, serta berlaku sopan selama persidangan," ungkap Sri Haryani dalam persidangan.

Sementara itu, hal yang memberatkan untuk terdakwa adalah merusak masa depan generasi muda. Serta tidak mendukung upaya untuk memberantas kejahatan terhadap anak.

Sebagai informasi, vonis pidana penjara yang dijatuhkan majelis hakim, lebih rendah dibandingkan dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Malang

Sebelumnya, JPU menuntut agar terdakwa dihukum dengan pidana penjara selama 20 tahun.

Mengingat, jumlah korban yang mencapai 11 orang, dengan usia diantara 11-16 tahun.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved