Berita Surabaya

Kepala Satpol PP Kota Surabaya Dilaporkan Balik oleh Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Barang Sitaan

Tersangka kasus dugaan korupsi penggelapan barang sitaan Satpol PP Surabaya Ferry Jocom melaporkan balik 9 orang yang diduga ikut terlibat kasus

Penulis: Bobby Koloway | Editor: Samsul Arifin
TribunMadura.com/Bobby Koloway
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya Eddy Christijanto dilaporkan balik oleh Tersangka kasus dugaan korupsi penggelapan barang sitaan Satpol PP Surabaya Ferry Jocom 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Tersangka kasus dugaan korupsi penggelapan barang sitaan Satpol PP Surabaya Ferry Jocom melaporkan atasannya ke Kejaksaan Negeri Surabaya. Terkait hal ini, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya Eddy Christijanto memberikan tanggapan.

"Kita hormati proses hukum yang dilakukan Kejaksaan," kata Eddy dikonfirmasi di Surabaya, Rabu (10/8/2022).

Terkait substansi pelaporan yang menyebut Kasatpol PP mengetahui dan membiarkan penjualan barang sitaan, Eddy juga enggan memberikan banyak tanggapan. "Sekali lagi, kita hormati proses hukum yang dilakukan Kejaksaan," katanya.

Sebelumnya, Tersangka kasus dugaan korupsi penggelapan barang sitaan Satpol PP Surabaya Ferry Jocom melaporkan balik 9 orang yang diduga ikut terlibat kasus tersebut. Satu di antaranya adalah Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya.

Laporan Ferry disampaikan melalui pengacaranya, Abdur Rachman Saleh, kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, Rabu (10/8/2022). Menariknya, nama pertama yang disebut dalam laporan ini adalah Kasatpol PP Surabaya.

Atasan Ferry ini disebut mengetahui dan membiarkan penjualan barang sitaan serta mengetahui aliran dana sebesar Rp300 juta kepada sejumlah oknum. Sayangnya, dalam laporan ini tak disertakan nama Kasatpol PP yang dimaksud.

Terkait kasus ini, sebenarnya justru Eddy yang kali pertama melaporkan ke kepolisian, Kamis (2/6/2022) lalu. ”Kami minta bantuan Polrestabes Surabaya untuk melakukan penyelidikan terhadap permasalahan tersebut,” kata Eddy di Surabaya, Sabtu (4/6/2022) silam.

Selain kepada kepolisian, oknum tersebut juga telah dilaporkan kepada Inspektorat Pemkot Surabaya. Mengacu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), sanksi yang disiapkan bisa berujung pemecatan apabila terbukti melakukan tindakan pidana. 

Koordinasi dengan kepolisian ini dilakukan setelah pihaknya melakukan penyelidikan secara internal. Pihaknya menceritakan, kali pertama mendengar kasus ini pada awal pekan lalu.

Baca juga: Resmi Ditahan Kejari Oknum Pejabat Satpol PP Surabaya Diduga Jual Barang Sitaan Kini Jadi Tersangka

Tepatnya, ia mengetahui pada Senin pagi (23/5/2022). Seorang pegawainya melapor kepadanya soal pengambilan barang hasil penertiban di gudang Satpol PP Surabaya.

Lokasinya, ada di gudang penyimpanan hasil penertiban Satpol PP Surabaya, Jalan Tanjung Sari Baru 11-15, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya. Gudang ini memang menjadi penyimpanan berbagai macam barang hasil penertiban, mulai dari potongan besi reklame, potongan utilitas, spanduk, tower, rombong dan barang hasil penertiban lainnya.

Mendapat laporan, ia langsung memerintahkan Kepala Bidang Penegakan Peraturan Daerah (Kabid Gakda) Satpol PP Surabaya, Irna Pawanti untuk memeriksa ke gudang. “Setelah dicek di gudang, ternyata memang ada aktifitas dan langsung dihentikan. Hari itu juga kami melakukan pemeriksaan secara marathon,” kata Eddy.

Seluruh kegiatan di gudang tersebut lantas dihentikan. Pihak-pihak terkait kemudian diperiksa. Selain melakukan pemeriksaan internal, pihaknya juga berkoordinasi dengan inspektorat dan kepolisian. 

Kumpulan Berita Lainnya seputar Surabaya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

Kemudian, penyidik Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Surabaya menetapkan salah seorang oknum Satpol PP Surabaya sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi. Oknum bernama Ferry Jocom, mantan Kabid Pengendalian, Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Surabaya.

Ia ditetapkan tersangka karena telah menjual barang bukti (BB) hasil sitaan, senilai Rp500 juta.Dalam perkara ini, tersangka pun dijerat dengan Pasal 10 huruf a, Pasal 10 huruf b Jo. Pasal 15 Jo. Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved