Berita Nganjuk

Fosil Gading Gajah Purba Ditemukan di Nganjuk, Berawal dari Kepedulian akan Habitat Monyet

temuan fosil gading gajah purba berumur ribuan tahun tersebut berawal dari kepedulian, Susilo, petugas Perhutani terhadap kehidupan dari habitat kera

Penulis: Ahmad Amru Muiz | Editor: Samsul Arifin
Istimewa/TribunMadura.com
Petugas Perhutani temukan Fosil Tulang Binatang Purba diantaranya Gading Gajah Purba di Desa Tritik Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk 

TRIBUNMADURA.COM, NGANJUK - Temuan Fosil Gading Gajah Purba di kawasan hutan Perhutani Desa Tritik Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk cukup unik dan mengesankan.

Ini setelah temuan fosil gading gajah purba berumur ribuan tahun tersebut berawal dari kepedulian, Susilo, petugas Perhutani terhadap kehidupan dari habitat kera atau monyet yang semakin terdesak kehidupanya.

Pada tahun 2011 lalu, Susilo sebagai petugas Perhutani rutin menjalankan tugas melakukan Patroli hutan di wilayah Desa Tritik Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk. Saat itu, dia melihat habitat hewan kera atau monyet yang kehidupanya mulai tertekan. Susilopun berpikir hewan kera itu makanya darimana kalau tidak ada yang memperhatikan. Mereka mau cari makan kemana karena di hutan tempatnya berada sudah tidak tersedia. Apa yang akan dimakanya.

"Kamipun tergerak menanam tanaman buah-buahan untuk nantinya bisa dimakan hewan kera hutan tersebut. Pada saat mengolah tanah itulah kami menemukan serpihan tulang fosil cukup banyak. Dan itu mungkin atas kuasa Tuhan YME karena memperhatikan kehidupan monyet dipertemukan dengan fosil tulang binatang purba," kata Susilo yang berdomisili di Perumahan Ganung Asri Kota Nganjuk, kemarin.

Temuan tulang fosil binatang purba berukuran serpihan itupun, karena ketidak tahuanya sedikit demi sedikit dibawa oleh Susilo. Tulang fosil binatang purba itupun diberikan kepada siapa saja yang menginginkanya. Itu dikarenakan dirinya belum mengetahui betapa tingginya nilai tulang fosil binatang purba itu bagi budaya dan sejarah kehidupan di bumi.

"Kamipun saat itu hanya diberi imbalan uang untuk beli rokok dari satu serpihan temuan tulang fosil binatang purba itu oleh siapa saja yang memintanya," ucap Susilo.

Suatu saat setelah menemukan serpihan tulang fosil binatang purba, Susilo pernah bermimpi menemukan gading gajah purba yang cukup panjang. Rupanya mimpi itupun menjadi pertanya kalau dirinya bakal menemukan fosil gading gajah purba berumur ratusan tahun. Dan temuan fosil gading gajah binatang purba itupun didengar aktivis pelestari budaya dan sejarah dari komunitas Kota Sejuk Nganjuk. Temuan tulang fosil binatang purba itupun sedikit demi sedikit dilakukan identifikasi secara mandiri. Setelah dipastikan itu temuan benda cagar budaya bernilai sejarah, aktivis Komunitas Kota Sejuk memberikan laporan ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

"Petugas yang ahli dalam bidang benda purbakala datang dan memastikan kalau fosil gading gajah purba itu sebagai temuan benda cagar budaya bernilai sejarah tinggi," ucap Susilo.

Setidaknya, dari serpihan tulang fosil binatang purba yang ditemukan Susilo, terdiri dari 14 jenis tulang binatang purba. Diantaranya tulang binatang darat, Gajah, Banteng, Kerbau, Rusa, binatang sejenis Banteng tapi lebih ganas, Binatang rawa seperti Buaya, Kuda Air, dan binatang buas dengan temuan seperti gigi harimau. Dan Susilo setiap melakukan Patroli di lokasi tersebut pulangnya selalu membawa serpihan tulang fosil binatang purba.

Baca juga: Kecelakaan di Nganjuk, Mobil Pick up Adu Banteng dengan Truk 1 Tewas, Diduga Sopir Mengantuk

Kumpulan Berita Lainnya seputar Nganjuk

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

"Semua tulang fosil hewan purba itu berupa serpihan dan jumlahnya masih banyak di lokasi kawasan hutan Perhutani di Desa Tritik itu, ada yang berada di permuakan dan ada kemungkinan yang terpendam," tandas Susilo.

Memang, menemukan fosil tulang hewan purba tersebut dirasakan Susilo sebagai karma. Ini dikarenakan dirinya saat sekolah SMP hingga SMA membenti pelajaran sejarah. Namun setelah menemukan fosil tulang binatang purba tersebut menjadi sadar betapa pentingnya sejarah budaya yang mempunyai nilai sangat tinggi. Sehingga kini dialam dirinya ingin bisa berbuat lebih banyak untuk melestarikan budaya dan sejarah kehidupan manusia di bumi.

"Dan kamipun memohon doa restu agar Pemerintah bisa menjadikan kawasan temuan fosil binatang purba di kawasan hutan Desa Tritik tersebut menjadi kawasan situs wisata purba. Karena kami optimis di kawasan cukup luas tersebut masih banyak fosil tulang hewan purba dari berbagai jenis yang terpendam dan belum digali untuk dikonservasi," tutur Susilo

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved