Berita Pasuruan

Tanah Wakaf untuk Musala dan Anak Yatim Diduga Diserobot Pengusaha Kos, Warga Wadul ke Kejaksaan

Wadul ke kejaksaan terkait penyerobotan tanah wakaf yang dijadikan sebagai tempat usaha, kos - kosan milik perseorangan.

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Galih Lintartika
Warga Gempol, Pasuruan yang melaporkan dugaan penyerobotan tanah wakaf ke Kejaksaan Negeri Pasuruan 

TRIBUNMADURA.COM - Tiga orang warga Dusun Patuk, Desa Gempol, Kecamatan Gempol mendatangi kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Pasuruan, Jumat (9/9/2022).


Kedatangannya ini wadul ke kejaksaan terkait penyerobotan tanah wakaf yang dijadikan sebagai tempat usaha, kos - kosan milik perseorangan.


Buhori mengatakan, tanah itu sebenarnya tanah wakaf yang diberikan oleh dua orang dermawan yakni Abdul Malik, dan temannya.


Penyerahan wakaf itu dilakukan tahun 2005 setelah pembelian dilakukan tahun 2002. Total luasan lahan 560 m2 .

Baca juga: Video Siswi SMK Jadi Korban Mesum saat Naik Angkot, ada Pria yang Lakukan Eksibisionis

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunMadura.com


Rencananya, tanah ini diwakafkan untuk pembangunan musala, TPQ, dan kantor anak yatim. Sayangnya, penyerahan wakaf saat itu hanya lisan.


"Hanya lisan saja, dan baru resmi diserahkan sah secara hukum tahun 2021. Tahun 2017 itu kos kosan dibangun oleh tokoh masyarakat setempat," katanya.


Menurut Purwanto, pemilik kos - kosan sebenarnya sudah diingatkan saat pembangunan bahwa itu tanah wakaf yang akan dibangun musala, TPQ, dan yayasan yatim piatu.


"Tapi tetap kukuh dan melanjutkan pembangunan kos - kosan yang besar. Kurang lebih 32 kamar. Katanya, sudah beli dan ada bukti pembeliannya," papar dia.


Abdul Malik, warga Candi, Sidoarjo merasa kecewa karena tanah yang dibelinya itu diserobot oleh orang dan dibangun kos - kosan tanpa sepengetahuannya.


Dia adalah pemilik lahan yang menyerahkan lahan itu untuk diwakafkan. Ia bercerita, awal mula dengan temannya beli tanah itu untuk investasi.


Namun, karena tidak menguntungkan, akhirnya sepakat untuk diwakafkan sebagai jalan ibadah dan memberikan manfaat untuk warga setempat.


"Waktu tahun 2017 itu saya juga sempat ketemu dengan H Tohir, pemilik kos - kosan. Ya intinya sama, beliau mengaku membeli tanah dari temannya," ungkapnya.


Ia mengaku kedatangannya ke kejaksaan ini untuk mencari keadilan. Artinya, tanah itu sudah diwakafkan tapi tiba - tiba diserobot dan dibangun kos - kosan.


"Harapannya, penyidik kejaksaan bisa membantu warga. Ini demi kepentingan warga, kepentingan ibadah. Ya , minimal tanah itu kembali menjadi tanah wakaf," paparnya.


Kasi Intel Kejari Kabupaten Pasuruan Jemmy Sandra mengaku akan menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan penyerobotan tanah wakaf.


"Tentunya, kami akan turun lapangan untuk mengecek itu. Kami juga ada perintah dari pimpinan untuk memberantas mafia tanah," pungkas dia. (lih)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved