Berita Madura

Mengerikan, Inilah Dampak Makan 'Ikan Bencong', Ikan yang Terkontaminasi Sampah Mikroplastik

Keberadaan Ikan Bencong kini menjelma sebagai fenomena yang berbahaya ketika dikonsumsi manusia.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Samsul Arifin
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
Dosen Pemberdayaan Masyarakat untuk Konservasi, Departemen Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura sekaligus Kader Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ihsanudin 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Pecahan dari sampah plastik atau mikroplastik di perairan laut tidak hanya berdampak secara luas terhadap keberlangsungan ekosistem satwa laut. Namun juga berpengaruh terhadap metabolisme, perubahan hormon, dan genetik pada ikan. Kondisi ini akhirnya melahirkan ikan ‘spesies’ baru, yakni Ikan Bencong.

Keberadaan Ikan Bencong kini menjelma sebagai fenomena yang berbahaya ketika dikonsumsi manusia. Mikroplastik, potongan sampah plastik berukuran kurang dari 5 milimeter berasal dari sampah-sampah plastik yang dibuang manusia.

Dosen Pemberdayaan Masyarakat untuk Konservasi, Departemen Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Ihsanudin mengungkapkan, sebutan Ikan Bencong itu merupakan hasil dari riset akibat dampak dari sampah mikroplastik yang termakan ikan.

“Ini menjadi fenomena yang berbahaya ketika kita mengkonsumsi ikan itu maka berpengaruh juga terhadap kesehatan terutama terhadap hormon manusia. Bahkan saya menemukan sebuah jurnal, juga mempengaruhi genetik tanaman,” ungkap Ihsanudin yang juga Kader Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada Surya, Kamis (22/9/2022).  

Januari 2022, sejumlah mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan UTM melakukan penelitian terkait kondisi perairan Selat Madura. hasilnya, perairan Selat Madura terkontaminasi mikroplastik.

Hasil penelitian tersebut memperlihatkan mikroplastik pada sedimen dan air paling banyak berjenis fragmen dan paling sedikit berjenis foam makanan. Mikroplastik fragmen diduga berasal dari botol, bungkus plastic, dan potongan pipa paralon.

Mikroplastik jenis fiber diduga dari kain sintetis, jaring ikan, hingga tali pancing. Sedangkan sumber dari mikroplastik berjenis filament berasal dari kemasan makanan dan foam sumber dari styrofoam.  

Ihsanudin menjelaskan, saat ini yang perlu menjadi perhatian adalah kesadaran tentang dampak buruk akan mikroplastik yang terbawa arus dan mengkontaminasi ikan-ikan di perairan laut lepas.

Pentingnya konsep 3R yang selalu digelorakan pemerintah; reduce, recycle, dan reuse, lanjutnya,  harus benar-benar menjadi sebuah awareness (kesadaran) yang wajib diimplementasikan oleh masyarakat. Namun dari ketiganya, terpenting adalah reduce atau berupaya mengurangi sebisa mungkin penggunaan sampah plastik.

Baca juga: Ajak Dialog Mahasiswa Dalam Pendirian Pos Polisi di Bangkalan, Polsek Blega Juga Rangkul Tokoh

Informasi lengkap dan menarik lainnya Berita Madura dan Berita Bangkalan hanya di GoogleNews TribunMadura.com

“Saya mengapresiasi kebijakan di sejumlah kota yang sudah tidak mengizinkan ritel-ritel untuk memberikan kantong plastik. Demikian juga hal-hal yang bisa kita lakukan seperti membawa tumbler (tempat air minum) sendiri. Ketika kita tidak lagi menyuguhkan minuman mineral kemasan plastic, itu sudah menjadi langkah penting,” jelasnya.  

Ia memaparkan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI telah menyelenggarakan konferensi tahunan yakni Sustainable Development Goals (SDGs) pada 8-9 Oktober 2019. Kegiatan bertemakan ‘Sustainable Ocean for Improving Prosperity and Reducing Inequality’ itu bertujuan sebagai refleksi pengalaman sekaligus merumuskan agenda bersama.

(SDGs) merupakan dasar pijakan Pemerintah Indonesia dalam melakukan pembangunan berkelanjutan. Ada 17 tujuan utamanya dan perlindungan keberlanjutan ekosistem laut menjadi elemen SDGs ke-14.

“Di Indonesia sampah plastik kondisinya memang memprihatinkan. Berkaca pada riset Jambeck di tahun 2015, sampah plastik di laut Indonesia menempati urutan kedua dunia setelah Tiongkok. Kita menjadi nomor satu bila dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah ke bawah dengan kuantitas mencapai 187,2 juta ton,” paparnya.

Sebelumnya, UTM di tahun 2019 mendeklarasikan sebagai Kampus Bebas Sampah Plastik. Komitmen itu ditegaskan melalui Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMaba) Sakera 2019.

Kampanye ‘Menuju Indonesia Bebas Sampah Plastik’ oleh UTM itu sebagai respon atas dampak serius sampah plastik yang tengah menjadi pembahasan serius negara-negara dunia, termasuk Indonesia.

Gerakan pungut sampah plastik dengan melibatkan masyarakat, mahasiswa, hingga anak sekolah terus dilakukan. Dengan harapan, terciptanya kesadaran masyarakat terhadap dampak serius sampah plastik. UTM berupaya mengurangi penggunaan sampah plastik dan memanfaatkan plastik yang bisa didaur ulang.

Terbaru, personel Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Batuporon Bangkalan dikerahkan bersama Polri, mahasiswa, pramuka, masyarakat, hingga beberapa OPD Pemkab Bangkalan untuk memungut sampah di kawasan pesisir Pelabuhan Kamal, Rabu (7/9/2022). 

Kegiatan bersih-bersih pantai merupakan rangkaian dari gelaran HUT Ke-76 TNI AL yang dilakukan secara serentak di 82 titik di seluruh Indonesia. Hanya dalam rentang waktu sekitar 2 jam, total sampah yang terkumpul mencapai 2 ton. Jumlah tersebut terus bertambah hingga mencapai 10 ton sampah dalam waktu 4 jam.

Ihsanudin menambahkan, kegiatan deklarasi ataupun agreement adalah sebuah upaya yang patut dihargai. Namun setidaknya, deklarasi atau apapun bentuk namanya harus terimplementasikan dalam kegiatan sehari-sehari yang ada dalam kegiatan lembaga itu sendiri.

“Semisal kita mlakukan deklarasi tetapi ketika ada rapat atau ada tamu masih menyuguhkan minuman kemasan plastik, kan percuma. Namun setidaknya dari kegiatan deklarasi atau kampanye itu telah memberikan awareness bagi khalayak bahwa ada sebuah fenomena bahaya, ada perhatian,” pungkasnya

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved