Sejarah

Kisah Pergerakan PKI di Madiun Sebelum G30S/PKI Meletus, ada Tokoh Sentral Sebelum Datangnya Muso

Salah satu yang menjadi bukti adanya pemberontakan PKI di Madiun adalah Monumen Kresek yang berlokasi di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Madiun

TribunMadura.com/Sofyan Arif Candra Sakti
Patung Muso yang hendak mengeksekusi Kiai Husen seorang Tokoh Agama dan Anggota DPRD Kabupaten Madiun 

TRIBUNMADURA.COM, MADIUN - Madiun menjadi salah satu daerah pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa revolusi nasional Indonesia.


Salah satu yang menjadi bukti adanya pemberontakan PKI di Madiun adalah Monumen Kresek yang berlokasi di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.


Di monumen tersebut terdapat patung tokoh PKI yaitu Muso yang nampak akan mengeksekusi Kiai Husen, tokoh agama sekaligus anggota DPRD Kabupaten Madiun.


Namun begitu sebelum pemberontakan yang dipimpin Muso, terdapat sejarah lain yang menyebabkan Madiun sangat dinamis hingga berbagai ideologi berkembang di Madiun termasuk paham komunis.

Baca juga: Kisah Saksi Hidup G30SPKI Akui Trauma, RPKAD dan PKI Sulit Dibedakan, Warga Sekitar Sempat Dihasut

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunMadura.com


Perkembangan PKI di Madiun tidak bisa dilepaskan dari Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) yang dibentuk oleh Amir Syarifuddin yang merupakan seorang tokoh PKI.


Pengamat sejarah, Ketua Historia van Madioen (HvM) Septian Dwita Kharisma mengatakan pada tahun 1945 Madiun menjadi salah satu daerah yang merasakan euforia revolusi pasca Jepang mundur dari Indonesia.

Monumen untuk memperingati peristiwa G30SPKI
Monumen untuk memperingati peristiwa G30SPKI (istimewa)


Saat itu senjata dikuasai oleh para pemuda dan membentuk badan perjuangan laskar rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.


"Dua orang tokoh kiri yang berperan aktif adalah Kolonel Dahlan, seorang perwira BKR atau TNI dan juga Kolonel Joko Suyono yaitu mantan Daidang Peta Madiun," kata Septian, Kamis (29/9/2022).


Mereka memobilisasi masyarakat dan pemuda untuk membentuk laskar rakyat dengan merekrut para preman, buta huruf untuk dipersenjatai dimasukkan ke laskar rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.


"Joko Suyono ini pernah dikader Muso di Surabaya pada tahun 1935. Saat itu Joko masih jadi aktivis atau pergerakan pemuda, sedangkan Muso seorang anggota Komisi internasional yang bertugas membangkitkan komunis di Indonesia," lanjutnya.


Sementara itu, di daerah lain, pada 10 November 1945 di Yogyakarta dibentuk barisan pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dalam Kongres Pemuda Seluruh Indonesia yang diinisiasi oleh Amir Syarifuddin yang saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan.


"Di Madiun, Joko membantu pemuda Pesindo dalam bidang militer dan memberikan gedung dijadikan asrama, saat ini gedung tersebut jadi DKT di Jalan Pahlawan," lanjutnya.


Tokoh lain yang juga banyak bergerak di Madiun adalah Kolonel Soemarsono. Ia menjadi pemimpin badan koordinasi pemuda republik Indonesia yang bermarkas di Madiun.


"Soemarsono juga pengikut Amir Syarifuddin, dan pernah dikader langsung oleh Amir Syarifuddin," lanjutnya.


Soemarsono mengungsi ke Madiun setelah dipukul mundur Belanda dari Surabaya.


Begitu juga sejumlah daerah lain yang bisa dikuasai oleh NICA (Nederlandsch Indische Civiele Administratie).


"Madiun menjadi pusat pergerakan revolusioner bersama Yogyakarta dan Surakarta karena daerah lain dikuasai Belanda," lanjutnya.


Karena menjadi pusat pergerakan revolusioner, Madiun menjadi dinamis, dan orang - orang bisa masuk ke Madiun dengan berbagai latar belakang politik dan kepentingan.


"Terbentuk lah kultur revolusioner. Banyak pemuda yang aktif dalam pergerakan. Dari berbagai elemen pergerakan, yang paling unggul adalah pengikut Amir Syarifuddin yaitu organisasi kepemudaan Pesindo," jelas Septian.


Salah satu tolok ukur keberhasilan Pesindo di Madiun adalah adanya Marx House atau rumah marxis untuk pengkaderan rumah sosialis yang dibentuk Pesindo di Madiun pada tahun 1946-1947.


"Pesindo ini adalah tulang punggung pergerakan PKI di Madiun, Pesindo dikenal memiliki persenjataan yang lengkap dan dirawat oleh Amir Syarifuddin yang saat itu menjadi menteri pertahanan dan perdana menteri," jelas Septian.


'Kekuatan' tersebut lah yang digunakan oleh Muso untuk melakukan pemberontakan pada tahun 1948 setelah mengambil alih PKI dari tangan Amir Syarifuddin.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved