Tragedi Kanjuruhan

Ketua Panpel Arema FC Abdul Haris Berlinang Air Mata, Kenang Keponakannya Menjadi Korban Meninggal

Bahkan baru diketahui keponakan Haris juga menjadi korban meninggal dalam Tragedi Stadion Kanjuruhan usai Arema FC kalah 2-3 lawan Persebaya itu. 

Penulis: Dya Ayu Wulansari | Editor: Samsul Arifin
tribunmadura.com/Dya Ayu
Ketua Panpel Arema FC Abdul Haris ceritakan kejadian Tragedi Kanjuruhan bahwa keponakannya ikut menjadi korban meninggal dunia 

TRIBUNMADURA.COM, MALANG - Ketua Panpel Arema FC, Abdul Haris yang kini ditetapkan sebagai salah satu tersangka Tragedi Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022) lalu yang menyebabkan 131 orang meninggal dunia, akhirnya buka suara.


Bertempat di kantor Arema FC, Abdul Haris yang didampingi kuasa hukumnya dan Manajer Arema FC muncul dihadapkan awak media, untuk menceritakan Kronologi kejadian.


Sebelum menceritakan apa yang ia alami dan ia lihat, dengan Berlinang air mata Haris meminta maaf pada semua pihak, terutama untuk para korban baik yang meninggal dunia maupun kini sedang dalam perawatan. Selain itu ia juga meminta maaf pada seluruh suporter di Indonesia.


Bahkan baru diketahui keponakan Haris juga menjadi korban meninggal dalam Tragedi Stadion Kanjuruhan usai Arema FC kalah 2-3 lawan Persebaya itu. 


“Kami mohon maaf sebesar-besarnya, sedalam dalamnya, kami berduka cita, kami sangat berkabung atas meninggalnya adik adikku, saudara saudaraku, keponakanku yang SMP juga meninggal, yang tanpa dosa mereka meregang nyawa," kata Abdul Haris, Jumat (7/10/2022).


Haris mengaku salah dan siap memoertanggung jawaban kesalahannya sebagai ketua Panpel yang dinilai lalai dan bersalah hingga ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian bersama dengan lima tersangka lainnya.


"Itu semua karena keterbatasan saya tidak bisa menangani menolong mereka, sehingga terjadi tragedi kemanusiaan. Sekali lagi saya mohon maaf pada keluarga korban dan kepada Aremania seluruh penonton, suporter seluruh Indonesia saya sebagai ketua Panpel mohon maaf karena tidak bisa menyelamatkan dan melindungi mereka. Saya tidak mau kejadian itu, tapi tetap terjadi," jelasnya.


Seperti diketahui, polisi telah menetapkan enam tersangka atas Tragedi Kanjuruhan, keenam tersangka itu ialah Direktur Utama PT LIB Ahmad Hadian Lukita. Dia menjadi tersangka lantaran menunjuk Stadion Kanjuruhan sebagai lokasi pertandingan, padahal belum memenuhi syarat layak fungsi berdasarkan hasil verifikasi tahun 2020.

Ia dikenakan jerjatan Pasal 359, 360 KUHP. Ketua Panpel laga Arema FC Abdul Haris ditetapkan tersangka lantaran tidak membuat dokumen keselamatan. Dia juga mengabaikan permintaan pihak keamanan. Dia pun menjual tiket lebih dari kapasitas stadion, yakni 42 ribu padahal kapasitas 38 ribu.

Baca juga: Walikota Malang Sutiaji Ingin Kumpulkan Semua Suporter Sepak bola se-Indonesia untuk Perdamaian

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

Dia dikenakan pasal Pasal 359 360 pasal 103 jo pasal 52 no 11 tahun 2022. Kemudian Suko Sutrisno selaku security steward, karena memerintahkan steward meninggalkan pintu gerbang. Akibatnya pintu tidak terbuka optimal saat massa ingin keluar. 


Tersangka selanjutnya, Kompol Wahyu Setyo Pranoto selaku Kabag Ops Polres Malang. Dia jadi tersangka karena tahu ada aturan FIFA tentang larangan penggunaan gas air mata. Akan tetapi yang bersangkutan tidak mencegah atau melarang personel memakai gas air mata. Dikenakan Pasal 359 dan atau 360 KUHP.


Selanjutnya yakni AKP Hasdarman selaku Komandan Kompi Brimob Polda Jawa Timur. Dia yang memerintahkan personel lainnya menembakkan gas air mata. Dikenakan Pasal 359 dan atau 360 KUHP. Berikutnya AKP Bambang Sidik Achmadi selaku Kasat Samapta Polres Malang. Dia memerintahkan personel menembakkan gas air mata. Dikenakan Pasal 359 dan atau 360 KUHP.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved