Berita Madura

Mengenal Batik Gentongan Khas Bangkalan, Diminati Masyarakat Malaysia Hingga Mekkah Arab Saudi

Gentongan merupakan teknik pewarnaan secara tradisional berbahan alami yang dilakukan dengan cara merendam kain ke sebuah gentong berukuran besar

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Samsul Arifin
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
Damayanti menunjukkan paket sarimbit berisikan tiga helai Batik Gentongan Super motif Oget-oget senilai Rp 20 juta di toko Batik Sumber Arafat miliknya di Jalan Raya Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Secara turun temurun, Batik Gentongan menjadi salah satu masterpiece atau karya agung lentik jemari kaum perempuan Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Dengan proses pembuatan yang memakan waktu selama 1,5 tahun, batik jenis ini tentu saja tidak bisa diproduksi secara masif. Meskipun demikian, eksistensi Batik Gentongan tidak terusik dengan masifnya pemasaran batik printing.

Gentongan merupakan teknik pewarnaan secara tradisional berbahan alami yang dilakukan dengan cara merendam kain ke sebuah gentong berukuran besar. Proses rendam satu warna saja untuk satu motif batik membutuhkan waktu selama satu bulan. Kehalusan dan warna cerah tetapi tidak norak merupakan ciri khas Batik Gentongan.

“Ciri khas Batik Gentongan yakni semakin dicuci warnanya semakin cerah karena pewarnaannya berbahan alami dari tumbuhan. Meski senilai Rp 20 juta namun memiliki pangsa pasar tersendiri. Seperti Malaysia dan para pengagum dari Mekkah, Arab Saudi,” ungkap Damayanti (44), warga Desa/Kecamatan Tanjung Bumi kepada Surya, Kamis (6/10/2022).

Tanjung Bumi merupakan kecamatan pesisir paling utara di ujung Kabupaten Bangkalan. Damayanti merasakan betul bagaimana menghabiskan waktu dengan membatik selama menunggu suami kembali dari melaut. Ibu dengan empat orang ini adalah generasi keempat dari keluarga pembatik.

Pada awal pernikahannya di tahun 1996, suaminya, H Fawaid (54) yang juga berasal dari perajin batik sering pergi melaut sebagai nahkoda kapal pengiriman hewan ternak dari Dermaga Telaga Biru. Selama dua tahun, Damayanti sering ditinggal suami, paling lama hingga selama 20 hari.

“Suami hanya ‘bertahan’ 5 hari di rumah lalu berangkat lagi. Jadi saya mengisi kekosongan dengan membatik. Akhirnya suami berhenti melaut pada tahun 1998,” jelas ibu dengan 4 orang anak itu. 


Menurutnya, seorang perajin batik harus mempunyai jiwa seni. Seperti yang telah menjalar di setiap nadi Damayanti dan para leluhurnya. Namun pada kondisi perekonomian saat ini, kegiatan-kegiatan pelatihan malah berkurang. Tidak sesering di era 2017-2019 dengan gelaran pelatihan dan diikutsertakan dalam pameran.

“Biasanya, saya bisa menjual sebanyak 2.500 potong batik dalam sebulan. Sekarang menurun drastis, saya mempunyai 65 pekerja untuk proses menulis atau pembatikan yang dibawa ke rumah masing-masing. Kalau proses pewarnaan saya lakukan di rumah,” pungkas pemilik Toko Batik Sumber Arafat di Jalan Raya Tanjung Bumi itu.

Sementara Kepala Bidang Usaha Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangkalan, Delly Septiana mengakui bahwa hingga akhir tahun 2022 belum teragendakan pelatihan maupun pameran karena memang keterbatasan anggaran.

Baca juga: Nestapa Pengrajin Batik Tanjung Bumi Bangkalan, Penjualan Tersendat, Rindukan Pameran Digelar

Informasi lengkap dan menarik lainnya Berita Madura dan Berita Bangkalan hanya di GoogleNews TribunMadura.com

“Di tahun 2023 pun kami juga belum mengetahui apa masih mendapatkan anggaran apa tidak. Jadi masih belum pasti, namun kami usahakan sebisa mungkin agar bisa mendapatkan anggaran untuk gelaran pameran di dekat-dekat sini,” ungkap Delly kepada Surya.

Ia menjelaskan, pesona batik-batik termasuk Batik Gentongan karya kaum perempuan Kecamatan Tanjung masih melekat kuat di para pengagum domestik maupun luar negeri. Itu dibuktikan dengan masih mengalirnya undangan event pameran di Jakarta, Bandung, Bali, hingga Yogyakarta.   

“Peluang pasar batik skala nasional masih terbuka lebar. Namun kami juga baru pemulihan ekonomi pasca terjangan pandemi Covid-19. Namun kami berharap untuk tahun 2023 semoga kami bisa memulai lagi mengikuti pameran,” pungkasnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved