Tangisan Santriwati Setiap Pulang Ngaji, Bikin Kedok Nafsu Oknum Guru Ngaji Dibongkar Orang Tua

Orang tua korban kerap merasa aneh dengan tingkah laku anaknya sepulang mengaji. Peluk dan tangisan dirasakan orang tua saat anaknya pulang mengaji.

Penulis: Mohammad Sudarsono | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Mohammad Sudarsono
Guru ngaji pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur saat diamankan Satreskrim Polres Tuban 

TRIBUNMADURA.COM, TUBAN - Santriwati menjadi korban pencabulan oleh guru ngajinya sendiri di Tuban.

Bahkan, orang tua korban kerap merasa aneh dengan tingkah laku anaknya sepulang mengaji.

Peluk dan tangisan dirasakan orang tua saat anaknya pulang mengaji.

Entah apa yang kini dirasakan P (12) dan N (17), santriwati yang mengalami aksi persetubuhan dan pencabulan oleh guru ngaji.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunMadura.com

Santri yang mengaji di TPQ Kecamatan Grabagan tersebut menjadi korban dari nafsu bejat AFM (28), warga setempat yang sudah beristri.

Perbuatan tak bermoral itu dilakukan di TPQ dengan modus korban pulang terakhir, pada 29 Oktober 2021.

Terhitung hingga kini berdasarkan pengakuan korban pertama, sudah mengalami 20 kali aksi bejat si guru ngaji.

Sang ibu yang merasa ada yang aneh dari perilaku anaknya, lalu bertanya atas apa yang dialami.

Sebab, setiap pulang ngaji korban kerap menangis memeluk ibunya.

"Ibu dari korban ini curiga, anaknya sepulang ngaji nangis sambil memeluk," kata Kasat Reskrim Polres Tuban, AKP M Gananta kepada wartawan, Minggu (6/11/2022).

Perwira pertama itu menjelaskan, saat ditanya korban tidak mengaku hingga akhirnya orang tua mengetahui percakapan di Handphone milik korban, yang isinya mengarah kepada tindakan asusila yang dialami.

Lalu orang tua menanyakan kebenarannya kepada korban, diakui telah menjadi korban pencabulan dan persetubuhan oleh guru ngajinya.

Kemudian oleh pihak keluarga dilaporkan ke Polda Jatim pada November 2021 dan langsung dilimpahkan ke Polres Tuban.

"Setelah dilakukan penyelidikan dan bukti dinyatakan lengkap, akhirnya pelaku ditangkap untuk menjalani proses hukum," pungkasnya.

Akibat perbuatan yang dilakukan, pelaku dijerat pasal 82 Jo pasal 76e dan Uundang-Undang RI No 17 th 2016 atau pasal 81 Jo pasal 76d, tentang perubahan ke dua atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.

Ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun.(nok)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved