Tragedi Kanjuruhan

Jeritan Ibu Korban Tragedi Kanjuruhan ikut Aksi Solidaritas Aremania, Minta Keadilan

Perempuan yang akrab disapa Ifa mengikuti aksi dengan membawa foto almarhum anaknya yang telah dicetak

Penulis: Mohammad Rifky Edgar | Editor: Samsul Arifin
TribunMadura.com/Rifky Edgar
Cholifatul Nur, ibu dari Jovan Farellino Yuseifa Pratama Putra (15 Tahun) korban Tragedi Kanjuruhan yang meninggal dunia pada 1 Oktober 2022 kemarin saat mengikuti aksi solidaritas. Sementara itu, Yayuk, budhe dari Eko Vicky Sulistyono korban tragedi Kanjuruhan saat ikut aksi solidaritas Aremania untuk mengenang 40 hari tragedi Kanjuruhan pada Kamis (10/11/2022) kemarin. 

TRIBUNMADURA.COM, MALANG - Aksi solidaritas untuk mengenang 40 Hari Tragedi Kanjuruhan ternyata tak hanya diikuti oleh Aremania saja, melainkan juga diikuti oleh korban dan keluarga korban.

Seperti yang dilakukan oleh Cholifatul Nur, ibu dari Jovan Farellino Yuseifa Pratama Putra (15 Tahun) korban Tragedi Kanjuruhan yang meninggal dunia pada 1 Oktober 2022 kemarin.

Perempuan yang akrab disapa Ifa mengikuti aksi dengan membawa foto almarhum anaknya yang telah dicetak.

Jovan sendiri merupakan anak satu-satunya dari Ifa. Dia harus meregang nyawa dalam Tragedi Kanjuruhan.

"Saya minta keadilan agar pelakunya bertanggung jawab mengaku salah disusut tuntas, karena ini nyawa orang banyak," ucap Ifa saat ditemui Surya, Kamis (10/11/2022) kemarin.

Ibu yang tinggal di Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang itu menceritakan, bahwa anaknya meninggal dunia setelah ada tembakan gas air mata ke arah tribun.

Pada saat itu, Jovan melihat di tribun delapan Stadion Kanjuruhan. 

Ifa mengetahui informasi ini, dari teman Jovan yang pada saat itu memberi kabar bahwa Jovan telah meninggal dunia.

"Temannya anak saya ini yang datang ke rumah. Kemudian telepon, jam 11 saya langsung ke Kanjuruhan. Di sana sudah banyak tembakan," ujar Ifa.

Baca juga: Meski Diguyur Hujan Deras, Doa Aremania Kenang 40 Hari Tragedi Kanjuruhan Tak Surut, Wali Kota Ikut

Ifa merasa, penanganan dalam Tragedi Kanjuruhan ini terkesan lambat. Hal ini yang membuat dirinya berinisiatif untuk turun ke jalan mengikuti aksi solidaritas Aremania.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

Baginya, penetapan enam tersangka yang telah dilakukan masih kurang. 

Sebab, masih banyak lagi pelaku penembakan gas air mata di lapangan yang belum diadili sampai sekarang.

"Penanganan masih lambat. Sedangkan kami sebagai orang tua, itu anak saya satu-satunya. Keadilan seperti ini sakit, meski sudah ada penetapan enam tersangka, itu masih kurang," terangnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved