Berita Madura

Wartawan Dituntut Tak Hanya Mahir Menulis Tetapi Juga Cakap di Depan Layar

Media-media pemberitaan formal saat ini harus ‘berperang’ melawan masifnya influencer yang menampilkan konten apa adanya atau bukan pesanan

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
VP Operation and Editor in Chief Merdeka.Com dan Bola.net, Darojatun saat menjadi keynote speaker di hadapan puluhan perwakilan wartawan se Indonesia dalam gelaran Stakeholder dan Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Ballroom Sheraton Hotel, Kuta, Bali, Sabtu (26/11/2022). 

TRIBUNMADURA.CO, BALI – Transformasi media massa sebagai rujukan informasi pemberitaan resmi mulai dari era cetak atau koran, televisi, hingga ke media online berbasis multimedia seperti saat ini, menuntut para wartawan tidak sekedar mahir menulis berita. Namun juga mampu berperan sebagai pewarta foto dan reporter live.

Hal tersebut ditegaskan wartawan senior sekaligus VP Operation and Editor in Chief Merdeka.Com dan Bola.net, Darojatun saat menjadi keynote speaker di hadapan puluhan perwakilan wartawan se Indonesia dalam gelaran Stakeholder dan Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Ballroom Sheraton Hotel, Kuta, Bali, Sabtu (26/11/2022).  

“Seorang jurnalis media online resmi barulah lengkap apabila bisa melaporkan langsung berita lewat live streaming berupa reportase dan interview. Wartawan dituntut tidak hanya mahir menulis berita. Namun juga cakap di depan layar,” ungkap Jatun yang juga mantan Kabiro Kompas TV Banten dan Kalimantan Barat itu.

Menurutnya, tantangan terbesar untuk transformasi dari media tradisional ke new media adalah bagaimana sebuah perusahaan media pemberitaan online berbasis multimedia bisa mendapatkan seorang wartawan yang siap dilatih.

Baca juga: Tiga Warga Sampang Jadi Komplotan Spesialis Pencuri Pikap Diringkus di Madiun, Satu Jadi DPO

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunMadura.com

Dengan harapan, lanjut Jatun, bersedia mengembangkan diri sehingga tidak hanya di concern dan mahir di lingkup wartawan tulis hanya namun juga punya tekad besar untuk belajar menguasai fotografi, videografi, Serta lebih jauh melatih diri untuk siap tampil di depan layar.

“Banyak yang bilang bakat orang berbeda-beda. Namun dalam berbagai kesempatan saya menemui banyak sekali orang yang awalnya malu berbicara di depan publik, justru bisa menjadi reporter yang baik di depan kamera. Tergantung kelenturan seseorang untuk bisa belajar sesuatu yang baru dan mau mengikuti perkembangan zaman,” paparnya.

Dalam paparannya, Magister Manajemen Universitas Tanjungpura Pontianak itu membagi menjadi beberapa materi diantaranya ; Perspektif Baru Jurnalis Handal Menyoal Traffic dan Reach Media, Perspektif baru jurnalis handal Menyoal Traffic dan Reach Media.

Selain itu, Perubahan dari Era Koran, Televisi, Hingga ke Media Online Berbasis Multimedia, Jurnalis dan Editor Media Online Harus Mulai Ikut Memikirkan Traffic, dan Tipisnya Batas antara Jurnalis Teks, Fotografer, Videografer, dan Reporter Mojo.

Jatun menjelaskan, media-media pemberitaan formal saat ini harus ‘berperang’ melawan masifnya influencer yang menampilkan konten apa adanya atau bukan pesanan dengan  sajian hal-hal yang menyentuh keseharian masyarakat.

“Kenapa sekarang influencer itu lebih disukai daripada media-media formal, karena orang melihat influencer itu lebih jujur, apa adanya, konten yang disajikan bukan setingan. Dengan seperti itu, pengikutnya merasa ini natural, beritanya manusiawi,” jelasnya.

Sementara media pemberitaan cetak maupun online, lanjutnya, dalam setiap menerbitkan konten pemberitaan harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu seperti yang telah tercantum dalam standar operasional prosedur.  

“Sehingga seharusnya media pemberitaan formal masih mempunyai keuntungan dibandingkan dengan influencer atau sumber-sumber berita lainnya. Nah keuntungan itulah yang harus dijadikan media pemberitaan resmi bisa bertahan di tengah kompleksitas yang ada,” pungkasnya.

Pjs Senior Manager Regional IV Indonesia Timur, Agus Sudaryanto mengungkapkan, pihaknya sengaja menghadirkan Darojatun karena sesuai dengan konteks saat ini di mana peran profesi wartawan tidak boleh dengan kondisi yang statis atau stagnan.

“Wartawan bisa menjelma sebagai profesi handal dalam segala bidang. Karena itu kami ingin membantu wartawan untuk lebih berkembang, lebih maju. Salah satunya menambah pengetahuan teman-teman melalui Pak Jatun yang sudah sukses, dulunya kan seperti teman-teman namun beliau bisa sukses dan banyak yang bisa dilakukan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan Media Gathering 2022 itu, lanjut Agus, pihaknya menghadirkan sejumlah 50 perwakilan wartawan di beberapa kabupaten dan provinsi mula dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, sampai Papua.

“Dengan harapan, setiap agenda media gathering harus ada yang bisa dibawa pulang, minimal strategi apa dalam menghadapi kompleksitas peran media seperti saat ini. Di satu sisi, kami juga ingin ada feedback melalui sesi tanya jawab untuk mengetahui isu terkini tentang perkembangan dunia jurnalis,” pungkasnya. (edo/ahmad faisol)  

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved