Berita Madura

Universitas Trunojoyo Madura Jadi Pelopor Smart Farming, Dinas Pertanian 'Sangat Ditunggu'

penerapan metode Smart Farming harus mampu memberikan solusi dan bekerja tidak berdasarkan kebiasaan

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Samsul Arifin
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
Smart Farming menjadi gagasan bersama dalam sebuah pertemuan kerjasama antara Fakultas Pertanian UTM dengan Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional Veteran di Gedung Fakultas Pertanian UPN Veteran, Yogyakarta, Rabu (23/11/2022). 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Beragam terobosan di sektor pertanian terus dikembangkan saat ini. Terakhir, Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mempelopori metode penerapan teknologi otomatisasi dan aplikasi Internet of Thing (IoT), yakni Smart Farming. Dengan begitu, diharapkan mampu menciptakan produk-produk pertanian dan perkebunan berkualitas.  

Kepala Bidang Prasarana Sarana dan Penyuluh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bangkalan, CHK Karyadinata mengungkapkan, penerapan metode Smart Farming harus mampu memberikan solusi dan bekerja tidak berdasarkan  kebiasaan melainkan berdasarkan data dan analisa.

“Jadi tuntutan Smart Farming itu pada prinsipnya harus jelas strategi dan konsepnya karena sangat ditunggu-tunggu . Kenapa sangat ditunggu-tunggu? Kita tetap harus bisa meyakinkan petani atau siapapun bahwa bertani itu masih relevan untuk bisa dijadikan sebuah pekerjaan,” ungkap CHK kepada Surya, Selasa (29/11/2022).  

Oleh karena itu, lanjutnya, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bangkalan mengapresiasi pihak UTM dan mempersilahkan siapapun bisa melakukan terobosan-terobosan di sektor pertanian dan perkebunan.

“Mau konsep seperti apa silahkan, namun tidak hanya sebatas penelitian tetapi harus mulai dikembangkan dalam pertanian. Karena kita kita segera melakukan regenerasi, harus segera melakukan perubahan pola pikir. Itu yang harus dilakukan bersama,” harapnya.

Baca juga: Bangkalan Terima Penghargaan, Kabupaten Terbaik Kinerja Pengendalian Wabah PMK Sapi, Kerja Keras

Smart Farming menjadi gagasan bersama dalam sebuah pertemuan kerjasama antara Fakultas Pertanian UTM dengan Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional  Veteran di Gedung Fakultas Pertanian UPN Veteran, Yogyakarta,  Rabu (23/11/2022).

Informasi lengkap dan menarik lainnya Berita Madura dan Berita Bangkalan hanya di GoogleNews TribunMadura.com

CHK memaparkan, penerapan metode Smart Farming sangat dibutuhkan di tengah semakin menyusutkan luas lahan, peningkatan produktivitas yang tidak bisa meningkat secara drastis, memotong rantai pasokan yang panjang, dan sistem penggunaan input yang efisien. Dengan harapan mampu menciptakan kualitas produk yang lebih baik.

Ia kemudian mencontohkan, ketika para petani menanam padi maka yang harus dikembangkan adalah padi organik. Begitu juga di awal musim mangga seperti sekarang ini, tetapi belum pernah teridentifikasi mana mangga dengan kualitas bagus.  

“Sederhana saja kita bisa melakukan pemilahan, mana mangga dengan berat sekian dengan rasa yang bagus. Kemudian dilakukan labeling, kita beri justifikasi. Sehingga dengan melihat merk saja para konsumen sudah paham bahwa mangga itu memiliki rasa dan kualitas bagus,” paparnya.

Dengan begitu, lanjutnya, bisa membantu para petani untuk lebih memperhatikan buahnya. Karena selama ini banyak produk buah sekedar ditanam dan berbuah tanpa memperhatikan kualitas produk.

“Sekarang bagaimana cara kita harus mulai menyampaikan kepada para petani bahwa setelah berbuah terjadi daun rontok, maka solusinya diberikan pupuk jenis ini. Sehingga petani juga bisa menjelma sebagai Smart Farmer . Berapa pH tanahnya, kandungan N nya, kandungan P nya, kandungan  K nya berapa, mineral mikro yang lain seperti apa? Petani juga harus pintar,” pungkas CHK.

Sekedar diketahui, Smart Farming merupakan metode usaha pertanian  dengan penerapan teknologi otomatisasi dan aplikasi IoT. Metode ini mulai banyak diterapkan guna menjawab tantangan teknologi global, terbatasnya input usaha pertanian serta tuntutan aplikasi praktis.

Peneliti Agroekoteknologi UTM, Slamet Supriyadi memaparkan, sektor pertanian di Madura dihadapkan pada tantangan kondisi lahan kering. Tanah di Madura didominasi  kompleks mediteran merah, litosol berbahan induk. batu kapur dan batu Pasir yang berkembang pada kondisi iklim kering.

“Tanah berbahan induk batu kapur mempunyai nilai pH tanah yang lebih tinggi. Kondisi ini tentu sangat tepat jika ada sentuhan teknologi, salah satunya dengan smart farming. Apalagi di Madura curah hujan memiliki rentang 38-275 milimeter,” singkatnya.

Sementara, Ketua Jurusan Ilmu dan Teknologi Fakultas Pertanian  UTM, Darimiyya Hidayati mendukung langkah kerjasama bersama Fakultas Pertanian UPN Veteran, Yogyakarta. Dengan harapan, dari pertukaran sumber daya kedua belah pihak akan terbangun kontribusi konstruktif  kepada masyarakat melalui berbagai bentuk kegiatan, baik melalui pembelajaran, riset, pengabdian kepada masyarakat, maupun pada aktivitas Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

“Kami memang memiliki visi yang concern di pertanian lahan kering. Apalagi UPN Veteran, Yogyakarta telah lama fokus pada bidang Smart Farming ,” pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved