Berita Bangkalan

Cegah ‘Wabah’ Gangster Meluas ke Bangkalan, Polisi Bina Puluhan Remaja dan Anak Usia Dini

Polres Bangkalan bergerak cepat meluncurkan beberapa polisi untuk melakukan pembinaan dengan sasaran remaja milenial dan anak usia dini.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
faisol) Petugas Polmas, Briptu Herlambang Wahyu Anafis memberikan pembinaan terhadap anak-anak berusia remaja dan berusia dini di Mushola Al Ikhlas, Desa Sembilangan Barat, Kecamatan Kota Bangkalan, Kamis (8/12/2022) selepas waktu Shalat Maghrib 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Perilaku negatif sekumpulan remaja hingga berujung tindakan anarkis atau biasa disebut gangster di Surabaya saat ini menjadi sorotan masyarakat dalam beberapa pekan terakhir.

Sebagai kabupaten terdekat yang berbatasan dengan Surabaya, Bangkalan mulai pasang badan guna mencegah munculnya gangster-gangster baru.

Polres Bangkalan bergerak cepat meluncurkan beberapa polisi untuk melakukan pembinaan dengan sasaran remaja milenial dan anak usia dini.

Sebagai wujud program Inovasi Petugas Polisi Masyarakat (Polmas) dengan harapan kaum milenial dan anak usia dini terhindar dari kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, hingga kecanduan bermain game online.

Baca juga: Inilah 37 Akun Gengster di Surabaya yang Masih Aktif, Bikin Konten untuk Gagah-gagahan

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunMadura.com

Petugas Polmas, Briptu Herlambang Wahyu Anafis pun mengumpulkan sedikitnya sejumlah 20 anak berusia remaja dan sebanyak 10 anak berusia dini di Mushola Al Ikhlas, Desa Sembilangan Barat, Kecamatan Kota Bangkalan, Kamis (8/12/2022) selepas waktu Shalat Maghrib.

“Saya kebetulan dekat sekali dengan para pemuda dan anak kecil. Jadi saya bersemangat untuk membangkitkan kembali budaya luhur, yakni mengaji selepas Sholat Maghrib. Itu yang saya gelorakan kembali. Kami rutin nantinya gelar yasinan di setiap malam Jumat,” ungkap Herlambang kepada Surya, Jumat (9/12/2022).  

Polisi berusia 26 tahun itu tidak sebatas merangkul para remaja dan anak usia dini untuk membaca Al Quran.

Namun juga memberikan pembinaan tentang pemahaman tentang dampak buruk penyalahgunaan narkoba dan dampak buruk dari perilaku negatif kenakalan remaja seperti yang meresahkan masyarakat di Surabaya.

Ia menjelaskan, meski di desa-desa masih banyak dijumpai namun di kawasan terdekat dekat perkotaan menyajikan fakta bahwa budaya anak-anak dan remaja mengaji selepas Maghrib jumlahnya semakin berkurang, berpotensi berangsur punah, dan memang tidak sebanyak dahulu.

“Sekarang sudah zaman modern, banyak anak terpengaruh kecanggihan ponsel. Karena itu saya rangkul mereka untuk kembali membangkitkan budaya mengaji selepas Maghrib. Agar tidak terpengaruh dengan kenakalan remaja dan yang sekarang marak yakni gengster-gengster dan penyalahgunaan narkoba,” pungkasnya. (edo/ahmad faisol)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved