Madura Terpopuler

Madura Terpopuler: Pemicu Pembacokan di RSD Ketapang hingga Proyek Irigasi di Sumenep Rusak

Inilah kumpulan berita Madura Terpopuler, Rabu (7/5/2025). Dari pemicu pembacoka di RSD Ketapang, hingga proyek di irigasi di Sumenep rusak

Penulis: Januar | Editor: Januar
Nur untuk TribunMadura.com
Rasulullah (43) seorang guru honorer di Pulau Kangean Sumenep ini dipecat sepihak karena ikutan foto penerima program BSPS 2024 yang diduga korupsi, Selasa (6/5/2025). 

TRIBUNMADURA.COM, MADURA- Inilah kumpulan berita Madura Terpopuler, Rabu (7/5/2025).

Dari pemicu pembacoka di RSD Ketapang, hingga proyek di irigasi di Sumenep rusak.


1 2 Pemicu Pembacokan di RSD Ketapang Sampang Diduga Masalah Parkir hingga Komentar di Medsos

 Pelaku pembacokan di halaman parkir Rumah Sakit Daerah (RSD) Ketapang, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura telah diamankan pihak kepolisian setempat. 

Pelaku yang membuat korban berinisial NH (22) asal Desa Ketapang Laok, Ketapang, Sampang meninggal dunia tersebut, diamankan hanya berselang beberapa jam dari kejadian, tepatnya Senin (5/5/2025) malam.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun TribunMadura.com melalui kabar yang beredar di media sosial, pelaku berinisial R warga setempat dan, kesehariannya bekerja sebagai tukang parkir di RSD setempat.

Diduga pertikaian antara pelaku dan korban dipicu masalah sepele yakni, tentang parkir.

Namun, ada juga salah satu akun di Tiktok 'pink' memosting rekaman suara dari seorang pria.

Rekaman itu menjelaskan, jika awal mula permasalahan disebabkan saling komen antara keduanya di media sosial. Hingga akhirnya berujung saling bertemu.

Kapolres Sampang AKBP Hartono mengatakan, jika pelaku berhasil diamankan bersama barang bukti berupa Sajam jenis celurit yang digunakan pelaku untuk melukai korban.

"Saat ini pelaku telah berada di Mapolres Sampang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," pungkasnya. 


2. Belum Genap Setahun, Proyek Saluran Irigasi di Kecamatan Dasuk Sumenep Rusak, Warga Prihatin

 Proyek saluran irigasi Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3 TGAI) di Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Madura belum genap setahun dikerjakan sudah rusak.

Tampak di lokasi, kondisinya sudah rusak parah.

Bahkan, proyek yang diketahui anggaran 2024 tersebut tebingnya ada yang runtuh.

Tetcatat, pelaksana kegiatannya itu yakni, P3A Harapan Baru Desa Kecer. Dengan titik koordinat X: +113.79391167, Y: -6.94900834.

Proyek 2024 tersebut diketahui anggaran sebesar Rp 195.000.000.

Warga setempat mengaku, proyek tersebut diketahui dibangun pada pertengahan tahun 2024 lalu.

Namun, ternyata kondisinya di akhir tahun sudah hancur.

"Sudah rusak akhir tahun, tidak sampai setahun itu sudah rusak. Ada yang retak bahkan sebagian ada yang runtuh menutupi jalannya air," tutur D menuturkan pada Selasa (6/5/2025).

Warga yang rumahnya tidak jauh dari lokasi ini mengaku sangat prihatin dengan kondisi proyek saluran irigasi tersebut.

Sebab, keberadaannya tidak memberikan dampak terhadap petani sekitar.

Karena air tidak bisa mengalir maksimal karena bangunan irigasinya dibiarkan rusak.

"Sampai sekarang tidak diperbaiki. Masih tetap dibiarkan rusak begitu saja," katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Kecer, Matlani belum bisa memberikan keterangan berkenaan dengan program P3 TGAI 2024 tersebut. 


3. Rasul Syok saat Dipecat dari Sekolah Tempatnya Mengajar di Sumenep, Fotonya Membongkar Kasus Korupsi

Hanya karena memotret rumah penerima program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) 2024, Rasulullah (43) seorang guru honorer di SDN Torjek II, Desa Torjek Kecamatan Kangayan atau Pulau Kangean Sumenep ini langsung dipecat.

"Iya benar, saya sudah tidak mengajar lagi karena saya dikeluarkan dari sekolah," tutur Rasulullah saat dikonfirmasi pada Selasa (6/5/2025).

Pak Rasul sapaan akrabnya mengaku, dirinya mengabdi sebagai guru honorer sudah 5 tahun lalu tepatnya sejak 2020 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Torjek II Desa Torjek Kecamatan Kangayan.

Ia mengaku sebagai guru pendidikan Agama, membaca dan menulis Alquran bagi muridnya di sekolah tersebut.

Pemecatan sepihak itu berawal pada tanggal 1 Mei 2025 lalu, dirinya menerima undangan rapat melalui grup pesan elektronik terkait Pembinaan dan Rapat Panitia Persiapan Perpisahan yang akan digelar di sekolah.

Dirinya mengaku tidak ada kecurigaan apa-apa. Hanya sempat ada wali murid yang bertanya terkait undangan ke sekolah. Namun, ia sampaikan bahwa undangan tersebut hanya khusus bagi para guru dan tidak dengan wali murid.

"Iya benar, saya menghadiri undangan rapat pada tanggal 3 Mei 2025 lalu itu dimulai dengan penyampaian arahan dari pengawas sekolah," tuturnya.

Saat itu tiba-tiba semua guru dan tenaga honorer lain diminta keluar ruangan kecuali dirinya. Dalam ruangan tersebut hanya ada dirinya dan Pak Modo Lelono, Kepala Sekolah, dan pengawas. 

Tidak lama kemudian, setelah itu enam orang lain masuk ke ruangan rapat.

"Setahu saya, empat orang memang wali murid, satu orang komite dan satu lagi orang dekat Kepala Desa (Kades) kayaknya. Namanya Husnul," sebutnya.

Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Torjek II, Arifin saat itu meminta beberapa orang yang ada di ruangan untuk menyampaikan tujuan kedatangannya.

Saat itulah kata Rasul, para wali murid secara kompak meminta dirinya yang mengajar di sekolah tersebut dikeluarkan dari sekolah.

"Mereka bahkan ada yang bilang, harus dikeluarkan hari itu juga. Jangan sampai besok. Jika tidak, para wali murid itu mengancam akan memindahkan anaknya dari sekolah," paparnya. 

Sebelum itu, Rasul mengakui jika sekitar 10 hari sebelum dikeluarkan dari sekolah lanjutnya, dirinya sempat membantu kawannya yang bernama Aan untuk mengambil foto para penerima program BSPS 2024 di desa setempat.

Program BSPS 2024 saat ini memang lagi dalam penyelidikan Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep, baik daratan maupun kepulauan.

"Memang betul saya memang memotret rumah penerima BSPS 2024, itu sekitar 5 rumah. Salah satu rumah milik Nenek Nakia yang hanya mendapat genteng dan papan saha," terangnya. 

Bahkan, dirinya juga mengaku sempat ikut saat Irjen Kementerian Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP) Republik Indonesia Heri Jerman turun langsung ke lokasi mendatangi penerima (BSPS) 2024 dan itu yang pak Rasul foto.

Pak Rasul mengaku, inisiatif untuk mengambil gambar rumah penerima bantuan BSPS 2024 di desanya merupakan yang pertama kalinya dilakukan.

"Meski saya dikeluarkan, saya tetap antar anak saya sekolah ke sana (SDN Torjek II). Karena itu tanggung jawab saya," katanya.

Sebagai guru honorer, dirinya mengajar dari hari Kamis - Sabtu. Jika tidak mengajar lanjutnya, hanya kerja serabutan.

"Iya serabutan, kadang bertani, kadang juga ikut menjadi tukang," tuturnya, saat ditanya kesibukan selain mengajar.

Ditulis ebelumnya, Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP) Republik Indonesia, Heri Jerman melaporkan pemotongan dana Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Tahun 2024 ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep.

Laporan tersebut dilakukan setelah Irjen PKP melakukan sidak dan serangkaian penyelidikan serta menemukan 18 temuan penyimpangan, baik di wilayah daratan maupun kepulauan.

Sumenep yang berjuluk Kota Keris ini  menjadi salah satu penerima program BSPS terbesar dengan anggaran 109,80 miliar untuk 5.490 unit rumah.

Itu yang tercatat dalam data kementerian PKP dan anggaran program BSPS di seluruh Indonesia mencapai 445,81 miliar untuk 22.258 penerima.

 

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved