Minggu, 10 Mei 2026

Berita Terkini Bangkalan

Bangkalan Perketat Monev Campak, Dinkes dan 22 Puskesmas Bergerak Cegah KLB

Mempertebal kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) atas sebaran wabah campak dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangkalan bersama petugas

Tayang:
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Taufiq Rochman
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
RAPATKAN BARISAN - Kepala Dinas Kesehatan Bangkalan, Nur Chotibah memimpin rapat koordinasi bersama 22 kepala puskesmas se kabupaten di aula dinkes setempat, Selasa (26/8/2025). Disepakati, tenaga kesehatan di seluruh puskesmas termasuk empat bidang serta kesekretariatan di dinkes akan turun ke lapangan untuk melakukan penelusuran terhadap balita yang terindikasi atau suspek maupun yang sakit 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ahmad Faisol

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Mempertebal kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) atas sebaran wabah campak dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangkalan bersama petugas dari 22 puskesmas.

Langkah ini ditempuh sebagai upaya mempersempit ruang penyebaran virus campak, sekaligus menghindarkan Bangkalan sebagai kabupaten KLB Campak.

Tekad Bangkalan agar aman dari wabah campak tergambar pada aula dinkes setempat, Selasa (26/8/2025).

Seluruh kepala puskesmas berkumpul dalam rapat koordinasi bersama Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL)  yang dipimpin langsung Kepala Dinkes Bangkalan, Nur Chotibah.

“Dari kasus suspek campak sebanyak 548 selama periode Januari-Agustus, dinyatakan positif sejumlah 60 orang."

"Tapi alhamdulillah sudah dinyatakan sembuh dan satu orang meninggal dunia pada Januari kemarin,” ungkap Nur Chotibah di sela rapat koordinasi bersama 22 kepala puskesmas di Kabupaten Bangkalan.

Data berkaitan jumlah 548 suspek campak berbeda dengan data jumlah yang dimiliki RSUD Syamrabu Bangkalan.

Selama periode Januari-Agustus 2025, pihak rumah sakit telah merawat sebanyak 275 pasien campak, 50 pasien di antaranya dirawat selama Agustus tahun ini dan 17 balita di antaranya terindikasi suspek campak berdasarkan gejala klinis.

“Data yang dipaparkan teman-teman rumah sakit itu berdasarkan gejala klinis berdasarkan hasil observasi."

"Namun kami mempunyai definisi khusus, untuk menentukan kasus campak harus dilakukan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu terhadap spesimen."

"Dilanjutkan tim surveilans P2PL mengirim spesimen pasien suspek Campak ke BBLK untuk menentukan positif atau tidak,” ungkap Nur Chotibah.

Hasil dari rapat koordinasi bersama 22 kepala puskesmas, lanjutnya, disepakati bahwa semua personel tenaga kesehatan mulai dari seluruh puskesmas, empat bidang serta kesekretariatan di dinkes akan turun ke lapangan untuk melakukan penelusuran terhadap balita yang terindikasi atau suspek maupun yang sakit.  

“Saya juga turun besok dengan menyasar balita berusia sembilan bulan hingga 18 bulan."

"Dengan harapan KLB Campak tidak terjadi di Kabupaten Bangkalan."

"Prosentase capaian imunisasi oleh 22 puskesmas sudah mencapai sekitar 90  persen,” pungkas Nur Chotibah.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved