Berita Surabaya

Tim Ahli Geologi ITS Pantau Langsung Lokasi Semburan Lumpur Mengandung Minyak dan Gas di Surabaya

Tim Ahli geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember turut memantau lokasi semburan lumpur mengandung minyak dan gas.

TRIBUNMADURA.COM/NUR IKA ANISA
Semburan lumpur di Kutisari Indah Utara, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Selasa (23/9/2019). 

Tim Ahli geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember turut memantau lokasi semburan lumpur bercampur minyak dan gas

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Tim Ahli geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya turut memantau lokasi semburan lumpur bercampur minyak dan gas di Kutisari Indah Utara, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya.

Tim Ahli geologi ITS yang hadir ke lokasi semburan lumpur bercampur minyak dan gas dipimpin oleh Amin Widodo.

Amin Widodo mengatakan, daerah Kutisari merupakan bagian dari Jawa Timur Utara yang memiliki cekungan minyak gas sejak kolonial Belanda.

Area Sekitar Semburan Lumpur Bercampur Minyak dan Gas di Surabaya Disterilisasi dari Aktivitas Api

Aksi Demonstrasi Mahasiswa di Depan DPRD Tuban Ricuh, Perwakilan yang Masuk ke Gedung Dewan Dibatasi

"Di Surabaya ini sudah ada lapangan minyak milik belanda sejak zaman 1800-an," kata Amin Widodo di lokasi, Selasa (24/9/2019).

"Itu ada di Krukah, Wonokromo, Kutisari, sampai ke Gunung Anyar," sambung dia.

Menurut Amin Widodo, kandungan lumpur yang mengandung minyak dan gas tersebut, berbahan karbon, bukan gas metan.

"Kalau bahan yang minyak lantung itu, statusnya kalau diminum bahaya," terang Amin Widodo.

Amin Widodo menyebut, sejak kolonial Belanda hingga saat ini, terdapat aktivitas pengeboran minyak.

Semburan lumpur di Kutisari Indah Utara, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Selasa (23/9/2019).
Semburan lumpur di Kutisari Indah Utara, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Selasa (23/9/2019). (TRIBUNMADURA.COM/NUR IKA ANISA)

Namun, kata dia, hal tersebut bukan menjadi pemicu munculnya lumpur mengandung minyak dan gas di Kutisari Indah Utara itu.

"Sekarang pun masih ada pengeboran kira-kira satu kilometer dari sini ada yang ngebor. Ditimba model kayak di Bojonegoro itu, dimasukan pipa gitu," kata dia.

Pihaknya berharap, pihak-pihak terkait dapat memonitoring status dan pengukuran munculnya lumpur minyak tersebut.

"Kami harap ada monitoring, kalau ditutup itu bukan rekomendasi takutnya pindah (muncul di tempat lain)," tutup dia.

Presiden Jokowi Tanggapi Aksi Sejumlah Demonstrasi Mahasiswa Terkait RKUHP, Singgung Kinerja DPR RI

Lewat Gebyar Expo Barang Bukti, Polres Blitar Kota Kembalikan 35 Unit Sepeda Motor Hasil Kejahatan

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved