Berita Surabaya
Perang Antar Geng di Surabaya Pecah: Jawara Kampung Vs All Star, 1 Remaja Jadi Sansak Hidup 10 Orang
Perang Antar Geng di Surabaya Meletus: Jawara Kampung Vs All Star, 1 Remaja Jadi Sansak Hidup 10 Orang
Penulis: Willy Abraham | Editor: Mujib Anwar
Perang Antar Geng di Surabaya Meletus: Geng Jawara Kampung Vs Geng All Star,
Akibatnya satu Remaja Jadi Sansak Hidup 10 Orang dan Disekap di Gresik
TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Perseteruan alias perang antar geng atau kelompok ternyata masih sering terjadi di Surabaya.
Kali ini terjadi perseteruan antara geng Jawara Kampung dengan geng All Star telah memakan korban anak dibawah umur.
Si korban berinisial NF. Remaja berusia 16 tahun anggota geng All Star ini telah dianiaya dan disekap di Gresik, oleh 10 orang dari kelompok geng Jawara Kampung.
Akibat perang antar geng tersebut, sebanyak 9 dari 10 orang anggota geng All Star pelaku pengeroyokan terhadap NF anggota geng Jawara Kampung, ditangkap oleh Polrestabes Surabaya.
Setelah ditelusuri, sembilan anggota geng Jawara Kampung, pelaku pengeroyokan kepada NF (16) ternyata memiliki peran masing-masing.
Saat disekap di Menganti, Gresik pelaku menghajar korban di sebuah cafe.
Para pelaku yang tergabung dalam Jawara Kampung itu menganiaya korbannya yang tergabung dalam geng All Star itu. Kedua geng itu saling berseteru.
Disana korban dianiaya oleh 10 orang. Satu orang masih dalam pengejaran.
Nah, saat di warkop yang cukup luas itu mereka bergantian memukuli korban.
"Kalau dilihat peran-peran masing ada berperan mukulin ada yang nendang," kata Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya, Iptu Giadi Nugraha, Minggu (29/9/2019).
Saat dianiaya, Korban tidak bisa bergerak karena dirangkul satu pelaku lainnya.
Dari sembilan pelaku itu, satu diantaranya berusia dewasa. Sedangkan lainnya, dibawah umur berstatus pelajar.
Ada satu pelaku perempuan berusia 15 tahun.
Dia bertugas sebagai merekam pengeroyokan itu dan di upload ke group Jawara Ladies untuk menunjukkan eksistensi, kemudian viral.
"Selama disekap korban masih diberi makan.
Mereka menunjukkan eksistensi kepada All Star bahwa salah satu anggotanya bisa mereka ambil," kata dia.
Lanjut Giadi, pihaknya sudah mengantongi identitas pelaku yang saat ini berstatus DPO.
"Masih dalam pengejaran tapi kami sudah tahu, dia berasal dari luar surabaya," tegasnya.
Awalnya, pemilik cafe sempat curiga dengan adanya aktivitas penganiayaan itu.
Namun, karena lokasi penganiayaan itu jauh dari meja kasir ditambah lagi ada sekat penghalang. Akhirnya dia menganggap biasa-biasa saja.
Dari keterangan para pelaku, mereka tidak memiliki ketua geng. "Tidak ada kepala geng, hanya saling menghargai," tambahnya.
Sementara itu, ayah korban, DA saat dikonfirmasi di kediamannya, mengatakan pihaknya trauma dengan peristiwa yang menimpa buah hatinya itu. Keluarganya menjadi tertutup.
NF tidak dapat ditemui, dia sedang tidur. Mereka berusaha menutup diri. Khawatir jika akan ada aksi susulan, atau didatangi oleh geng yang berisikan remaja tanggung itu.
Saat anaknya tidak kunjung pulang, DA masih bekerja. Dia baru tahu jika buah hatinya itu disekap oleh geng Jawara Kampung dari media sosial, facebook.
"Tahu dari facebook, ada yang memberi info anak saya disekap. Langsung lapor Polisi," katanya.
Akibat penganiayaan saat disekap itu, kondisi anaknya mengalami luka di kepala, wajah dan tangan. DA menyerahkan semuanya kepada polisi.
"Sudah langsung proses hukum saja," ucapnya.
Sebelumnya, NF, seorang remaja yang menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh 10 orang kini dibebaskan unit Jatanras Polrestabes Surabaya.
Remaja 16 tahun itu disekap di sebuah bangunan kosong di Menganti, Gresik.
Keluarga NF pun kini bisa melihat buah hatinya kembali kerumah.
NF yang sempat dikira hilang, akhirnya ditemukan.
Sembilan orang pelaku kini telah diamankan.
Menurut informasi yang dihimpun, awalnya aksi penyekapan dan pengeroyokan ini bermotif perselisihan.
Diketahui, NF merupakan anggota geng All Star. Mereka merupakan seteru dari geng Jawara Kampung.
Dua nama geng ini merupakan nama yang sering terdengar karena kasus tawuran.
Anggotanya remaja bau kencur. Mereka memunculkan rivalitas saling berseteru bak aktor di film laga.
Pada awal September, aksi kedua geng yang hendak tawuran saat dinihari itu digagalkan Polres Pelabuhan Tanjung Perak.
Mereka membawa pisau, parang, gasper dan senjata tajam lainnya, para remaja tanggung itu kocar-kacir saat didatangi polisi.
Sehingga aksi tawuran itu berhasil digagalkan.
Bukan berarti perseteruan diantara dua geng yang meresahkan masyarakat itu reda.
NF menjadi korban kekejian dua geng itu.
Dia pamit kepada keluarganya di Pakis, Sawahan hendak ke rumah nenek di Wonorejo, pada Jumat (20/9/2019) pukul 18.00 wib.
Ternyata korban tidak kunjung pulang hingga malam.
Kedua orang tua NF pun khawatir. Dia menelepon anak laki-lakinya itu dan masih direspon.
"Katanya iya pulang masih di Jalan Rajawali perjalanan pulang bawa motor sendiri," kata Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya Iptu Giadi Nugraha, Jumat (27/9/2019).
Hingga tengah malam, orang tua korban hanya bisa harap-harap cemas.
Sebab, anaknya itu tidak kunjung pulang. Bahkan hingga larut malam, suara motor yang dikendarai anaknya itu tidak terdengar.
Janji NF untuk pulang ternyata tidak kunjung terpenuhi.
Orang tuanya setia menunggu hingga keesokan harinya.
"Mereka telepon korban tapi sudah tidak aktif," terang Giadi.
Mereka berusaha menanyakan keberadaan anak laki-lakinya itu kepada teman-teman NF.
Namun, tidak ada yang mengetahui keberadaan NF.
Hingga akhirnya mereka mendapati sebuah video di media sosial. Di dalam video itu, mereka melihat sendiri buah hatinya dipukuli berulang kali oleh sekelompok pemuda.
Tidak diketahui, dimana lokasi pengeroyokan itu.
"Mereka membawa video itu lapor ke Polisi," terangnya.
Pihaknya langsung bergerak mencari keberadaan NF.
Kemudian, lokasi penganiayaan itu diketahui berada di wilayah Menganti, Gresik. NF ditemukan dalam bangunan kosong.
Dia disekap disana, dijadikan samsak hidup.
"Total ada sembilan orang kita amankan, satu orang lagi masih buron," tegas Lulusan Akpol 2012 ini.
Giadi menjelaskan, bahwa penyekapan yang dialami NF adalah puncak dari perselisihan antar dua geng itu.
Geng yang terdiri dari para remaja itu, mendapati NF di jalan dan bertemu kelompok Jawara Kampung atau yang biasa disingkat KP Jawara.
NF yang seorang diri mengendarai sepeda motor itu dihajar. Mereka membabi buta mengeroyok NF.
"Pertama dikeroyok di Krembangan, kemudian Simo Gunung dan Banyu Urip," kata Giadi.
NF dihajar habis-habisan di tiga lokasi itu.
Kemudian, pada keesokan harinya korban dibawa menuju Menganti Gresik. Disana selain disekap, juga dihajar lagi oleh mereka.
Sepeda motor yang dikendarai NF raib, entah kemana.
Sementara sembilan orang berhasil diamankan dan satu orang buron, dalam pengejaran polisi.
Sejumlah barang bukti turut diamankan.
"Tujuh diantaranya masih bocah, mereka ikut mengeroyok korban ini karena perselisihan antar geng," tutupnya.