Breaking News:

Berita Sumenep

Audiensi Pemuda Sapeken dengan Bupati Sumenep, Sampaikan Aspirasi dan Bahas Masalah Pendidikan

Warga Sapeken yang mengatasnamakan Barisan Pemuda Bersatu (BPB) Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep gelar audensi dengan Bupati Abuya Busyro Karim

TRIBUNMADURA.COM/ALI HAFIDZ SYAHBANA
Warga yang mengatas namakan Barisan Pemudan Bersatu (BPB) Desa Sapeken saat audensi dengan Bupati Sumenep, Kamis (17/9/2020) pukul 21.00 WIB. 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Warga Sapeken yang mengatasnamakan Barisan Pemuda Bersatu (BPB) Desa/Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep gelar audensi dengan Bupati Abuya Busyro Karim di ruang kantor Camat, Kamis (17/9/2020) pukul 21.00 WIB.

Audensi yang dilakukan oleh sejumlah BPB ini untuk menyampaikan aspirasi secara langsung pada Bupati Sumenep, Abuya Busyro Karim dalam kesempatan safari kungker terakhir di pulau Sapeken tersebut.

Aspirasi yang disampaikan diantaranya, melestarikan budaya suku bajau (bahasa bajau), sarana buku perpustakaan, pendidikan, nakalnya tenaga guru pendidikan dan pengawasan pemerintah di kecamatan setempat.

"Ini persoalan yang dikeluhkan warga kepulauan sapeken selama ini, yakni legitimasi kebudayaan suku bajau yang sudah maulai hilang karena tidak ada pembinaan dan responsif dari pemerintah," kata Ketua BPB Desa/Kecamatan Sapeken, Ikratul Akbar usai audensi.

Nekat Gali Sumur Meski Rumah Roboh Taruhannya, Abdul Ghani Ikuti Kata Mimpi, Temukan Harta Karun

Viral Game Among Us Simak Tipsnya untuk Pemula, Pilih jadi Kawan atau Pengkhianat, Mirip Werewolf

Ia mendesak pemerintah dalam hal ini Disdik Sumenep untuk merancang kurikulum muatan lokal bahasa bajau, sebab mayoritas sejak dulu duduk dibangku sekolah hanya bahasa Madura.

Padahal kata pria asli pulau Sapeken ini jika dilihat Sumenep dalam angka katanya, suku bajau 82 persen dan sisanya bahasa Madura, Jawa dan Mandar.

"Kami sejak duduk dibangku SD, SM dan SMA itu bahasa muatan lokalnya hanya bahasa Madura saja, sedangkan kita disini 82 persen suku bajau. Ini kami bicara sesuai peraturan Gunernur muatan lokal," tegasnya.

Terkait kinerja pihak Kecamatan hingga tingkat pendidikan guru SD katanya, dinilai timpang.

"Karena kenapa, pelayanam pemerintah disini dibuka pukul delapan pagi dan ditutup jam 12 siang. Maksudnya setiap pukul 12 siang orangnya ini tidak ada. Bahkan ada salah satu oknum pegawai kecamatan sejak awal 2020 dia baru datang pas safari bupati ini," katanya.

Bahkan untuk tenaga guru pendidikan di pulau Sapeken ini katanya, hanya mengajar dua minggu dan istirahat enam bulan.

"Mereka gajinya bercanda, kerjaannya totalitas. Ini terjadi hingga sekarang, dan selain itu kami juga mendesak untuk pemerintah bisa memperhatikan warga disabilitas," katanya.

Penulis: Ali Hafidz Syahbana
Editor: Aqwamit Torik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved