Berita Pamekasan

Malu Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa di Madura ini Rela Jualan Kopi Keliling Demi Bayar Kuliah

Malu karena terus minta ke orang tua, mahasiswa ini rela berjualan kopi keliling setiap hari. Hal ini ia lakukan karena malu jadi beban orang tua

Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Aqwamit Torik
TRIBUNMADURA.COM/KUSWANTO FERDIAN
Jamal, Mahasiswa Universitas Islam Madura saat menjajakan kopinya, akui jualan kopi untuk membayar kuliah karena malu jadi beban orang tua 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Malu karena terus-terusan minta ke orang tua, mahasiswa ini rela berjualan kopi keliling setiap hari.

Hal ini ia lakukan karena malu jadi beban orang tua.

Mahasiswa ini diketahui sering mendatangi pusat keramaian untuk menjajakan kopi dagangannya.

Ia juga mengaku jika modal yang ia keluarkan untuk berjualan berasal dari pinjaman dari teman.

Jamaluddin, Mahasiswa Agroteknologi, Universitas Islam Madura (UIM) rela berjualan kopi keliling setiap harinya demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya.

Baca juga: Maksud Tersembunyi Teddy Ganggu Keluarga Sule Dibongkar Mbak You: Dia Tidak Mau Susah, Maunya Duit

Baca juga: Peruntungan Shio Tikus, Shio Naga, Shio Ayam dan Shio Anjing di Tahun 2021: Harus Realistis

Baca juga: Anjing Peliharaan Setia Tunggui Jasad Ayah yang Tewas di Toko, Anak Korban Ungkap Riwayat Ayah

Pemuda yang yang akrab dipanggil Jamal ini berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Saat ini, ia masih duduk di bangku semester 1.

Mahasiswa asal Desa Lepelle, Kecamatan Robatal, Pamekasan itu mengaku malu bila terus menerus meminta uang ke orang tuanya.

Karena dirinya sadar, bahwa profesi orang tuanya hanya seorang buruh tani.

"Saya memilih berjualan kopi keliling, mendatangi setiap pusat keramaian dan masuk dari pintu ke pintu menawarkan kopi," kata Jamal kepada TribunMadura.com, Jumat (25/12/2020).

Mahasiswa Kader PMII ini juga menceritakan kalau modal yang dia peroleh, hasil dari utang ke teman kuliahnya.

Modal awal untuk berjualan kopi, ia mengaku pinjam Rp 200 ribu.

"Saat kesini (kuliah), saya tidak punya uang sebesar itu.

Jadi pinjam dulu," ujarnya.

"Saya juga tidak ingin merepotkan orang tua jika harus meminta uang sebesar itu," sambungnya.

Selepas berjualan keliling kota, dia berlanjut menawarkan jualannya ke teman-teman organisasinya, salah satunya ke organisasi ekstra PMII UIM.

Jamal juga menceritakan, omzet setiap harinya masih belum jelas dan tergolong rendah.

"Penghasilan yang saya dapatkan setiap hari tidak menentu, jadi omzet belum bisa melunasi utang kepada teman saya," ceritanya.

Jamal berharap, tidak hanya dirinya yang memiliki kemauan tidak mau merepotkan orang tua.

Melainkan, para generasi muda yang lain juga memiliki pandagan hidup yang sama dengan dirinya, yaitu hidup secara mandiri.

Baca juga: VIRAL Anggota DPRD Geram Usai Keruk Aspal Pakai Tangan Kosong, Diduga Asal Jadi, ini Kesaksian Warga

Baca juga: Beda Urusan Perayaan Natal Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, Tradisi Pulang Kampung Perbedaannya?

"Harapannya semua mahasiswa harus mandiri dan menghilangkan rasa gengsinya agar tidak selalu merepotkan orang tua," tutupnya.

Di sisi lain, Ketua Komisariat PMII UIM, Aliwafa saat diwawancarai mengaku prihatin. 

"Ketika seharian Jamal berjualan dan menawarkan pada teman-teman organisasi PMII, dia (Jamal) datang dengan kondisi basah kuyup karena kehujanan," katanya.

"Saat saya tanya ke Jamal, apakah punya jas hujan? Dia menjawab tidak punya.

Sementara dia berpikir kopinya akan laris di saat musim hujan seperti sekarang ini," urainya.

Pria yang akrab disapa Wafa itu mengaku tidak bisa berbuat apa-apa.

Namun untuk membantu Jamal, dia meminta Jamal untuk datang ke komisariat setiap pagi membawakan kopi sebanyak tiga gelas.

"Karena saya pikir, tiga gelas kopi tidak terlalu mahal, karena per gelas harganya cuma Rp 3 ribu," tutupnya.

 
 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved