Breaking News:

Hari Buruh Internasional

Peringati May Day, Mahasiswa dan Buruh di Kantor Pemkab Gresik Minta UU Cipta Kerja Dibatalkan

Aliansi mahasiswa dan buruh tetap menggelar peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di tengah pandemi Covid-19.

TRIBUNMADURA.COM/SOEGIYONO
MAY DAY - Para aktivis PMII dan buruh Gresik unjuk rasa di depan Kantor Pemkab Gresik dalam rangka memperingati May Day, Sabtu (1/4/2021). 

Reporter: Soegiyono I Editor: Elma Gloria Stevani

TRIBUNMADURA.COM, GRESIK - Aliansi mahasiswa dan buruh tetap menggelar peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di tengah pandemi Covid-19.

Aksi tersebut akan dipusatkan di halaman Kantor Pemkab Gresik, Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Kebomas untuk memperingati May Day, Sabtu (1/5/2021). 

Mereka kembali kembali menuntut pembatalan omnibus law UU Cipta Kerja, pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) tepat waktu, pemberlakuan upah sektoral, stop kriminalisasi aktivis dan pemberian vaksin gratis untuk rakyat dan buruh

Tuntutan lainnya yaitu, stop union busting serikat pekerja; pengusutan tuntas korupsi di BPJS, penolakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK); penghapusan kontrak kerja. penolakan upah murah dan penurunan harga pupuk serta obat-obatan pertanian.

Selain itu,  mereka meminta monopoli dihentikan dan perampasan lahan pertanian untuk industrialisasi.

Baca juga: Polres Pamekasan Gelar Apel Siaga Hadapi Hari Buruh Internasional, Antisipasi Tindak Pidana Kriminal

Para mahasiswa yang tergabung dalam PMII juga menuntut hentikan komersialisasi pendidikan dan cabut Undang-undang pendidikan tinggi nomor 12 Tahun 2012 serta turunkan harga kebutuhan pokok. 

"Tuntutan kita diantaranya cabut Omnibus Law beserta Peraturan Presiden yang ada di bawahnya. Sebab, Undang-undang cipta kerja sudah tidak memihak lagi kepara para buruh dan rakyat Indonesia,"kata Ketua SPBI Kasbi Kabupaten Gresik Syafi'udin. 

Menurut Syafi'udin, saat pemerintah harus fokus pada kemandirian bangsa dan kemakmuran masyarakat. Tidak perlu banyak Undang-undang dan peraturan, yang akhirnya membuat rakyat semakin sengsara. 

"Rakyat hanya butuh makan, kerja sebagai petani yang aman dan tentram. Tanah Indonesia kaya raya, tapi rakyatnya semakin sengsara. Dimana pupuk mahal, harga panen anjlok karena pemerintah tidak tegas melindungi petani," imbuhnya. 

Halaman
12
Penulis: Soegiyono
Editor: Elma Gloria Stevani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved