Breaking News:

Berita Sumenep

Jelang Pembelajaran Tatap Muka, Masih Ada Sebagian Guru di Sumenep Belum Divaksin Covid-19

Guru di Kabupaten Sumenep yang belum divaksin Covid-19 terdiri dari tingkat guru TK, SD dan SMP baik negeri maupun swasta.

TRIBUNMADURA.COM/SAMSUL HADI
Seorang guru menerima vaksinasi Covid-19 

Reporter : Ali Hafidz Syahbana | Editor: Ayu Mufidah KS

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Sejumlah guru di Kabupaten Sumenep, Madura, hingga saat ini belum divaksin Covid-19.

Padahal, pembelajaran tatap muka (PTM) sekolah secara penuh di Kabupaten Sumenep, Madura, tidak lama lagi.

Guru di Kabupaten Sumenep yang belum divaksin Covid-19 terdiri dari tingkat guru TK, SD dan SMP baik negeri maupun swasta.

Data terbaru yang tercatat di Dinkes Sumenep, dari 4 ribu guru, ada sekitar 20 persen yang belum divaksin.

Sedangkan 80 persen lainnya sudah menjalani vaksinasi Covid-19.

Baca juga: BERITA MADURA TERPOPULER HARI INI, Lockdown RSUD Syamrabu Bangkalan hingga Pembubaran Orkes Dangdut

Plt Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Moh Iksan mengatakan, pihaknya sudah mengeluarkan kebijakan berupa surat edaran pada tiap-tiap sekokah agar semua guru wajib divaksin Covid-19 sebelum PTM.

"Kami Dinas Pendidikan atas nama Pemkab Sumenep sudah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh sekolah, baij swasta dan negeri," kata Moh Iksan, Senin (7/6/2021).

Ditanya alasan soal 20 persen tenaga guru belum dilakukan vaksin covid-19, pihaknya mengaku ada beberapa alasan di antaranya, sebagian ada yang secara medis tidak boleh karena memiliki komorbid dan ada juga yang mengaku ketakutan unuk disuntik.

"Akan tetapi nanti bisa kami oastikan, sebelum PTM secara penuh dinulai, persentasenya naik menjadi 90 persen atau lebih," katanya.

Bagaimana jika masih ada beberapa guru yang tidak mau divaksin atau dengan alasan tidak jelas, pihaknya mengancam tidak akan memberikan jam pelajaran bagi guru yang tidak mau disuntik vaksin covid-19.

"Saya sudsh meminta pada para kepala sekokah, agar mereka tidak memberikan jam pelajaran bagi guru yang tidak mau divaksin tanpa alasan yang jelas," tegasnya.

Sebab katanya, hal itu dilakukan untuk mengantisipasi agar setelah PTM secara penuh berlangsung tidak terjadi hal-hal ysng tidak diinginkan.

"Kami tidak ingin nanti sampai ada klaster baru penyebaran Covid-19, yakni kelaster sekolah," katanya.

Penulis: Ali Hafidz Syahbana
Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved