Breaking News:

Berita Pamekasan

Omset Pariwisata Madura Anjlok 90 Persen Sejak Pemberlakuan Rapid Test Antigen di Jembatan Suramadu

Asosiasi Pariwisata Madura menyikapi kebijakan penyekatan dan pemberlakuan rapid tes antigen bagi semua pengendara yang melintas di Suramadu

Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Elma Gloria Stevani
TRIBUNMADURA.COM/KUSWANTO FERDIAN
Ketua ASPRIM, Achmad Vicky Faisal. 

Reporter: Kuswanto Ferdian| Editor: Elma Gloria Stevani

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM) menyikapi kebijakan penyekatan dan pemberlakuan rapid tes antigen bagi semua pengendara yang melintas di Jembatan Suramadu dari arah Madura menuju Surabaya, sejak 6 Juni 2021 hingga sekarang oleh Pemerintah Jawa Timur dan Pemkot Surabaya.

Ketua ASPRIM, Achmad Vicky Faisal mengatakan, diberlakukannya kebijakan ini telah menciptakan ketakutan yang luar biasa bagi warga Madura di manapun berada. 

Menurutnya, diterapkannya kebijakan itu seolah-olah membuat seluruh warga Madura terjangkit Covid-19, sehingga harus dites antigen semua bagi yang hendak menuju Surabaya atau pun sebaliknya.

Padahal, berdasarkan data yang dihimpun ASPRIM, hanya 3 kecamatan saja di Bangkalan yang banyak kasus positif Covid-19.

"Kenapa harus seluruh Madura disekat yang terdiri dari 72 kecamatan dan 4 kabupaten," keluh Achmad Vicky Faisal kepada TribunMadura.com, Selasa (15/6/2021).

Pria lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura ini juga membeberkan dampak diberlakukannya kebijakan penyekatan dan pemberlakuan tes antigen bagi semua pengendara yang melintas di Jembatan Suramadu dari arah Madura menuju Surabaya.

Pertama, ekonomi di Madura terpukul utamanya di bidang pariwisata. 

Saat ini, kata Vicky, penurunan omset pariwisata di Madura anjlok mencapai hingga 90%, dan banyak karyawan yang dirumahkan sementara. 

"Bus wisata yang rata-rata 30-50 bus masuk ke Madura setiap harinya, jadi tak ada lagi. Hunian tamu hotel anjlok," beber Vicky.

Tak hanya itu, kata Pria bertubuh gempal ini, sejak diberlakukannya kebijakan penyekatan dan pemberlakuan tes antigen bagi semua pengendara yang melintas di Jembatan Suramadu dari arah Madura menuju Surabaya itu muncul stigma baru di benak warga luar Madura, yaitu 'Jangan Ke Madura' karena darurat kasus positif Covid-19.

Menurut Vicky, stigma itu telah menciptakan sebuah ketakutan yang beredar luas, sehingga wisatawan dan warga luar Madura tak satupun yang mau berkunjung ke madura.

"Selain itu juga terjadi diskriminasi Plat Nomor dan KTP Madura, jadi sasaran penyekatan dan target tes antigen. Siapapun yang ber-KTP Madura dan kendaraan Plat M, dicurigai dan menjadi target tes antigen," ungkap Vicky.

FOLLOW JUGA:

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved