Banjir Bandang Kota Batu
Penyebab Banjir Bandang di Kota Batu Terkuak, BNPB Temukan Pengaruh Bendung Alam Sebabkan Longsor
BNPB menyebut, banjir bandang di Kota Batu disebabkan karena adanya bendung alam yang jebol di kawasan hulu.
Penulis: Benni Indo | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
TRIBUNMADURA.COM, BATU – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan penyebab banjir bandang di Kota Batu.
BNPB menyebut, banjir bandang di Kota Batu disebabkan karena adanya bendung alam yang jebol di kawasan hulu.
Bendung alam ini terjadi karena tanah longsor di dekat aliran sungai.
Ketika ada hujan dengan intensitas tinggi, bendung alam tersebut tidak mampu menahan tekanan air.
Akibatnya, banjir bandang terjadi. Banjir itu membawa material lumpur dan pohon yang ikut dalam longsoran.
Hal itu disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari saat jumpa pers dengan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko secara virtual dari Balaikota Among Tani, Sabtu (6/11/2021).
Hasil itu didapat setelah BNPB meninjau kawasan hulu menggunakan helikopter.
Baca juga: Listrik Mati Dampak Banjir Bandang di Batu, Pasokan Listrik ke 26.236 Pelanggan Kembali Dipulihkan
Terlihat ada sejumlah titik longsor di tebing-tebing yang berada di dekat aliran sungai.
Dipaparkan Muhari, kawasan perbukitan yang rawan longsor tersebut masuk kategori risiko menengah tingkat tinggi.
“Di bawah alur lembah sungai ada aliran air. Sisi tebing tidak dilindungi tumbuhan yang terlalu rapat dan memiliki akar kuat," kata dia.
"Pada saat hujan tinggi, terjadi longsor kecil dan menjadi bendung alam di aliran sungai tadi. Ini adalah salah satu spot yang kami cermati dari udara,” ujarnya.
Kondisi di hilir yang banyak terdapat kebun musiman semakin memperparah banjir.
Pasalnya, tumbuhan kebun tidak cukup kuat untuk membendung banjir.
Baca juga: Banjir di Malang, Pengungsi Butuh Obat-Obatan dan Pakaian Layak Pakai, Begini Cara Salurkan Donasi
Tidak adanya tahanan berupa pohon di kawasan hilir ini membuat banjir semakin besar dengan lumpur dan kayu yang dibawanya.
“Di hilir cukup banyak kebun semusim di tebing sungai. Ketika hujan dengan intensitas tinggi, akar dari tanaman semusim tidak mengikat tanah sehingga membawa saturasi tanah ke bawah," tutur dia.