Breaking News:

Berita Bangkalan

Pengiriman Sampah ke TPA Tersendat, Aroma Tak Sedap Hingga Jalan Licin Muncul, ini Penyebabnya

Anang menjelaskan, pengiriman sampah ke TPA Desa Bunajih dalam kondisi musim penghujan hanya bisa dilakukan dua kali dalam sehari.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
Tumpukan sampah di transfer depo Jalan Letnan Sunarto, Kelurahan Pangeranan mulai terurai, Selasa (16/11/2021). Kepala DLH Kabupaten Bangkalan menyebut, keterlambatan pengiriman sampah ke TPA Desa Bunajih dikarenakan faktor cuaca 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Pengiriman sampah harian menjadi tersendat lantaran landasan di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Bunajih, Kecamatan Labang berubah licin.

Licinnya jalan itu akibat musim penghujan yang kini datang.

Tersendatnya pengiriman sampah ke TPA menyebabkan sampah menumpuk bahkan sempat menutup akses jalan di transfer depo sampah di Jalan Letnan Sunarto, Kelurahan Pangeranan.

Meski tumpukan sampah di depo tersebut mulai terangkat, namun aroma tidak sedap dari sisa tumpukan sampah masih meninggalkan aroma tidak sedap.

“Kemarin akses jalan di depan depo sempat ditutup karena tumpukan sampah hampir menutupi jalan. Masyarakat pengguna jalan akhirnya putar balik. Sekarang sudah dibuka karena sampah mulai terangkat,” singkat Rian (30), warga sekitar transfer depo, Selasa (16/11/2021).

Baca juga: Modal Celurit Ingin Viral di TikTok Justru Berakhir Penjara, Terungkap Kelakuan dan Penyebabnya

Menanggapi kondisi itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangkalan, Anang Yulianto menyatakan, tumpukan sampah terjadi dikarenakan keterlambatan pengiriman dari depo ke TPA di Desa Bunajih, Kecamatan Labang.

“Kondisi tanah di landasan sekitar TPA licin karena musim hujan, sehingga pengiriman dengan armada truk tersendat. Kalau akses menuju TPA nya, tidak,” kata Anang kepada Surya melalui sambungan seluler.

Total produksi sampah rumah tangga dan rumah makan di Kota Bangkalan mencapai 9 ton per hari.

Dengan kondisi itu, pengangkutan sampah menggunakan truk kontainer membutuhkan waktu tiga kali dalam sehari.  

Anang menjelaskan, pengiriman sampah ke TPA Desa Bunajih dalam kondisi musim penghujan hanya bisa dilakukan dua kali dalam sehari.

Untuk mencapai pengiriman hingga tiga kali sudah tidak memungkinkan karena jarak tempuh ke TPA relatif jauh.

“Musim penghujan seperti ini, kirim dua kali saja sudah malam. Biasanya kan berangkat pagi, namun karena hujan menunggu landasan kering. Kadang juga setelah sampah dinaikkan kontainer, hujan datang. Truk tidak jadi berangkat,” jelasnya.  

Persoalan sampah di Kabupaten Bangkalan memang diibaratkan seperti bola salju. Penutupan satu-satunya TPA di Desa Buluh, Kecamatan Socah oleh warga pada awal Februari 2020 menjadi awal petaka bagi Pemkab Bangkalan.

Tumpukan sampah ‘menggunung’ di sejumlah TPS dan transfer depo. Gelombang aksi unjuk rasa mahasiswa di DLH Kabupaten Bangkalan tidak terelakkan. Akhirnya, di awal Maret 2020 Pemkab Bangkalan bersepakat dengan pihak Desa Bunajih terkait penggunaan lahan untuk TPA baru.

“Tidak ada kendala non teknis, tersendatnya pengiriman sampah ke TPA Desa Bunajih disebabkan faktor cuaca,” pungkas Anang yang pernah sukses mengelola sampah di Kecamatan Arosbaya ketika menjabat Camat Arosbaya. (edo/ahmad faisol)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved