Breaking News:

Berita Bangkalan

Aplikasi Sidaya Sehati Menjadi Andalan Bangkalan untuk Penanganan Kemiskinan Ekstrem di 25 Desa

Teknis pendataan berikut aplikasi Sidaya Sehati ini harus dipaparkan secara rinci kepada para pendamping desa yang turun langsung

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
Wakil Bupati Bangkalan, Drs Mohni, MM (tengah) didampingi Asisten Pemerintah Setdakab Bangkalan, Siswo Irianto (kanan) memimpin Rapat Pendataan Baru terkait Penanganan Kemiskinan Ekstrem di Aula Diponegoro Pemkab Bangkalan, Rabu (17/11/2021). 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN –  Bangkalan menjadi salah satu kabupaten di Jawa Timur bersama Kabupaten Sumenep, Lamongan, Probolinggo, dan Bojonegoro sebagai pilot project program Penanganan Kemisikinan Ekstrem.

Presiden RI Joko Widodo menargetkan nol warga miskin di tahun 2024.

Pemkab Bangkalan melalui Dinas Sosial telah menyusun terobosan dengan memperkuat sistem pendataan melalui aplikasi Sistem Data dan Layanan Sejahtera bersama Bupati (Sidaya Sehati). Hasil pendataan di lapangan didasarkan atas tiga kategori; sangat miskin, miskin, dan rentan. Dijadwalkan, pendataan akan dimulai pada akhir November ini.

Wakil Bupati Bangkalan, Drs Mohni, MM mengungkapkan, teknis pendataan berikut aplikasi Sidaya Sehati ini harus dipaparkan secara rinci kepada para pendamping desa yang turun langsung dalam melakukan validasi data di lapangan.

Baca juga: Diduga ada Kelalaian, Truk Pertamina Hantam Pesepeda Hingga Meninggal, Polisi Tahan Sopir Truk

“Dengan harapan upaya pengentasan Kemiskinan Ekstrem bisa menyasar seecara maksimal dan mampu menjangkau semua sektor,” ungkap Mohni saat memimpin Rapat Pendataan Baru terkait Kemiskinan Ekstrem di Aula Diponegoro Pemkab Bangkalan, Rabu (17/11/2021).

Sebelumnya, di tempat yang sama Mohni juga memimpin rapat Usulan Lokus Penanganan Kemiskinan Ekstrem bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ditetapkan sebanyak 25 desa di 5 kecamatan sebagai sasaran program Penanganan Kemiskinan Ekstrem.

25 desa itu meliputi Desa Durjan, Bandang Laok, Tlokoh, Mandung, dan Katol Timur (Kecamatan Kokop), Desa Genteng, Durin Timur, Durin Barat, Batokaban, dan Galis Dajah (Kecamatan Konang).

Dilanjutkan Desa Lerpak, Togubang, Katol Barat, Banyoning Laok, dan Geger (Kecamatan Geger), Desa Serabi Timur, Kolla, Alas Kokon, Pakong, dan Patenteng (Kecamatan Modung), Desa Alas Raja, Lombang Dajah, Bates, Karang Nangka, dan Rosep (Kecamatan Blega).

“Para pendamping desa bersama Tim SLRT (Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) bisa memaksimalkan pendataan baru. Sehingga data yang diperoleh sesuai atau ril dengan angka kemiskinan,” pungkasnya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bangkalan, Wibagio Suharta menambahkan, sejauh ini pihaknya telah berkoordinasi dengan para kepala desa dan pendamping desa sebagai upaya validasi data di 25 desa di lima kecamatan yang telah ditetapkan dalam program Penanganan Kemiskinan Ekstrem.

“Kami ingin memastikan apakah benar-benar miskin? Selain itu kami ingin update data sebagai dokumen karena setiap tahun dipastikan selalu ada perubahan terkait jumlah warga miskin,” ungkap Wibagio.

Ia memaparakan, pada apilikasi Sidaya Sehati mewajibkan setiap warga yang terdata miskin melampirkan foto minimal sebanyak 7 lembar, kondisi rumah beserta lingkungan, memasukkan titik koordinat lokasi rumah, menjawab 16 pertanyaan yang sudah disiapkan dengan skor 100 pada setiap pertanyaan untuk jawaban penghasilan atau kondisi terendah.

“Skor paling besar yakni 300 dengan penghasilan tinggi. Semua itu sudah disesuaikan dengan regulasi Kemensos Nomor 146 Tahun 2013 tentang Kriteria Masyarakat Miskin dan Orang Tidak Mampu,” pungkasnya. (edo/ahmad faisol)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved