Berita Bangkalan

Khusyuknya Rutinitas Santri di Ponpes Jabal Quran Jelang Sahur, Shalat Tahajud dan Baca Al Quran

Sebelum makan sahur, para santri wajib melaksanakan Shalat Tahajud, membaca Al Quran, hingga membaca Nadzoman dari berbagai kitab

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM/AHMAD FAISOL
Para santri berusia 7-12 tahun Ponpes Jabal Quran di kawasan Wisata Bukit Jaddih, Desa Parseh, Kecamatan Socah, Bangkalan wajib melaksanakan Shalat Tahajud, membaca Al Quran, hingga membaca Nadzom dari berbagai kitab, Rabu (6/4/2022) sebelum waktu makan sahur selama Bulan Ramadhan 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Bulan penuh berkah selama Ramadhan menjadi momen paling penting bagi Pengasuh Ponpes Jabal Quran, Ustad Muwafik Lc CIFP. Jam tidur siang para santri yang mayoritas berusia di bawah 12 tahun, dirubah di pagi hari. Sebelum makan sahur, para santri wajib melaksanakan Shalat Tahajud, membaca Al Quran, hingga membaca Nadzoman dari berbagai kitab.

Suara merdu Jangkrik mewarnai keheningan di sepertiga malam, Rabu (6/4/2022) pukul 02.00 WIB. Kabut tipis menggelayut rendah, menambah suasana di ponpes yang berlokasi di kawasan Wisata Bukit Jaddih, Desa Parseh, Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan semakin dingin.

Tidak berselang lama, bunyi ketukan pintu terdengar lirih di kamar para santri laki-laki. Ustad Muwafik mulai membangunkan mereka untuk ragam kegiatan sebelum makan sahur hingga sebelum dan sesudah Shalat Subuh berjamaah.

Beberapa santriwati tampak sibuk memasak di dalam dapur untuk kebutuhan makan sahur para santri lainnya. Bertindak sebagai koki dijadwal secara bergiliran, termasuk mempersiapkan peralatan makan hingga mencuci piring.

“Para santri wajib Shalat Tahajud, mengaji Al Quran, dan membaca secara bergiliran nadzoman dari berbagai kitab sebelum berjamaah Shalat Subuh. Usai itu, anak-anak menghafal Al Quran hingga pukul 06.30 WIB dan dilanjutkan tidur,” ungkap ustad berusia 34 tahun itu kepada Surya.

Baca juga: Di Hari Jumat Selama Ramadan, Bupati Ra Latif Wajibkan ASN Pemkab Bangkalan Ngantor Lebih Lama

Bacaan Nadzoman dari berbagai kitab yang dilantunkan setiap sebelum shalat berjamaah meliputi Kitab Aqidatul Awam, Khoridatul Bahiyyah, Jauharatut Tauhid, Tanwirul Hija, Tanbihul Muta'allim, Alfiyah Ibnu Malik, Imrihti, Tuhfatul Athfal, Jazariyah, hingga Kitab Amtsilah Tashrifiyyah

“Selama Ramadhan, jam tidur kami ubah di pagi hari selepas pukul 06.30 WIB, setelah kegiatan menghafal Al Quran. Ketika pukul 09.00 WIB, anak-anak sudah bangun karena mulai pukul 10.00 WIB masuk kelas untuk belajar Bahasa Arab,” jelas Sarjana Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadits, Universitas Al-Azhar, Mesir itu.

Sebagai pesantren modern, Ustad Muwafik memberikan rutinitas selingan kepada para santri berupa olahraga sepatu roda dan panahan di waktu sore atau selepas waktu Shalat Ashar. Venue sepatu roda memanfaatkan lintasan berkeramik di pinggir kolam renang Goa Pote di komplek Wisata Bukit Jaddih. Sedangkan kegiatan olahraga panahan, memanfaatkan halaman ponpes.

“Beberapa santriwati yang kebagian piket memasak, mempersiapkan menu untuk berbuka puasa. Kegiatan tadarus dengan sistem talqin atau mendiktekan berlangsung hingga pukul 22.30 WIB,” tutur Magister International Centre For Education in Islamic Finance (INCEIF) Malaysia itu.

Ponpes Jabal Quran Desa Parseh dimulai sekitar 2 tahun yang lalu. Hingga saat ini, total jumlah santri dan santriwati sebanyak 30 orang. Mereka berasal dari warga sekitar, Kabupaten Pamekasan, Surabaya, Kalimantan, hingga Cirebon, Jawa Barat. Di luar Bulan Ramadhan, jam tidur para santri biasanya terjadwal pada siang hari. Mereka rata-rata berusia 7-12 tahun.

Ia menambahkan, keputusan memberi nama Jabal (Gunung) Quran karena ingin ingin menempatkan Al Quran di tempat yang tinggi. Artinya, menanamkan ajaran Tauhid dan Al Quran sejak dini dalam diri anak-anak adalah ajaran yang utama dan pertama.

”Saya memang suka mengajar terutama anak kecil karena lebih mudah untuk membentuk karakter, akhlak, dan menanamkan suka dan cinta terhadap Al Quran. Tetapi kami juga membuka untuk santri lulusan SD, SMP, dan lulusan SMP seperti santriwati dari dari Cirebon adalah lulusan SMP,” pungkas Alumnus Ponpes Al Amin, Kabupaten Sumenep itu

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved