Berita Pamekasan
Cuaca tak Menentu Bikin Petani Tembakau di Pamekasan Lesu, Ini Isi Hati Petani, Pengaruhi Kualitas
Pantuan di lapangan, hamparan ladang di beberapa kawasan di Pamekasan, sebagian sudah ditanami tembakau
Penulis: Muchsin Rasjid | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN – Memasuki musim tanam tembakau tahun ini, cuaca tidak menentu lantaran hujan terus mengguyur, membuat petani tembakau di Pamekasan bimbang. Tidak bersahabatnya cuaca ini dinilai merugikan bagi kalangan petani tembakau.
Sementara beberapa petani tembakau di Pamekasan, sejak pertengahan Mei 2022, sudah mulai menanam benih tembakau di ladang mereka. Dengan harapan, cuaca musim tanam tahun ini sama seperti musim tanam tembakau 2021. Kala itu, cuaca cerah dan mendukung untuk tanaman tembakau.
Pantuan di lapangan, hamparan ladang di beberapa kawasan di Pamekasan, sebagian sudah ditanami tembakau. Namun sebagian lagi, dibiarkan tidak ditanami tembakau. Yang terlihat hanya rimbunan ilalang dan sebagian terdapat tanaman tembakau yang tergenang air hujan, menutupi bibit tembakau.
Beberapa petani tembakau yang ditemui mengatakan, jika cuaca tetap seperti ini, kadang panas dan kadang pula hujan, maka selain mengancam kualitas tembakau, tidak menutup kemungkinan banyak petani yang masih berpikir ulang untuk menanam tembakau.
Baca juga: Taburkan Benih Ikan Kerapu di Desa Lembung, Wabup Pamekasan Harap Dongkrak Ekonomi Masyarakat
Kumpulan Berita Lainnya seputar Pamekasan
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com
Diakui, jika sebagian petani yang sudah menanam sejak pertengahan Mei, kemudian diguyur hujan dan tanamannya mati, mereka masih tetap menanam kembali. Harapannya cuaca kembali cerah dan tidak ada hujan. Namun ada pula, petani yang memiliki modal pas-pasan, ketika tanamannya mati diguyur hujan, mereka memilih tidak menanam kembali.
Seperti yang diungkapkan, Mohammad Saleh (62), petani tembakau di Desa Bettet, Kecamatan Kota, Pamekasan. Pria yang sudah puluhan tahun menjadi petani tembakau mengakui, lahan miliknya yang ditanami tembakau sebanyak 5.000 bibit kini mati diguyur hujan dan membiarkan ladangnya tidak digarap lagi.
“Tahun lalu, cuacanya benar-benar mendukung, sehingga kualitas tembakau kami cukup bagus. Namun kali ini, hujan tiada henti, kami putuskan di musim tanan tahun ini kami tidak menanam kembali untuk kedua kalinya. Kami tidak punya biaya dan cuaca belum tentu berpihak pada petani,” kata Mohammad Saleh, kepada Surya, Rabu (15/6/2022).
Petani tembakau lainnya, Subaidah (43), yang saat memberikan pupuk pada tanaman tembakaunya dengan cara disiramkan ke tanamannya di Desa Panglegur, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, mengatakan, tanaman yang diberi pupuk ini merupakan tanaman yang kedua kalinya dan baru berumur 15 hari.
Tanaman yang pertama pada pertengahan Mei, namun karena sering diguyur hujan, tanamannya mati. “Kami terpaksa menanam kembali tembakau ini, karena kami pikir masih ada peluang cuaca bagus ke depan. Tanaman tembakau yang kedua ini suring diguur hujan, agar tetap segar, kami beri pupuk,” kata Subaidah.
Ketua Asosiasi Petani Indonesia (APTI) Pamekasan, Samukrah, yang ditemui mengakui, jika saat ini petani tembakau dilanda kebimbangan akibat cuaca seperti ini. Hampir tiap hari, hujan masih mengguyur dengan intensitas cukup tinggi. Akibatnya, sebagian petani masih pikir-pikir untuk menanam
Samukrah mengatakan, walau cuaca kurang bersahabat, namun beberapa petani ada yang nanam hingga tiga kali, karena tanaman pertama dan kedua mati akibat hujan. “Mereka yang masih tetap menanam hingga tiga kali, karena petani memiliki rasa optimis, hujan ini berhenti pada akhir Juni dan pada Juli cuaca cerah dan semoga tidak ada hujan,” kata Samukrah.
Menurut Samukrah, , di pertengahan Juni ini, ia memperkirakan lahan yang sudah ditanami tembakau di seluruh wilayah di Pamekasan hanya seluas 1.400 hektare. Padahal, pada pertengahan Juni 2021 lalu, karena saat itu cuaca bagus, luas lahan tembakau yang ditanami tembakau sebanyak 15.000 hektare. Sementara luas areal tembakau yang tertanam pada 2021 lalu, hampir 24.000 hektare.
Diungkapkan, jika kondisi cuaca tetap seperti ini, ia memprediksi jumlah petani yang menanam tembakau tidak sebanyak tahun lalu. Sebab, walau minggu depan cuaca kemarau dan sudah tidak hujan lagi, namun petani enggan unuk menanam tembakau, mengingat iklimnya tidak mendukung.