Breaking News:

Pilpres 2024

Duet Prabowo-Jokowi di Pilpres 2024 Malah Mendapat Penolakan dari Masyarakat, Simak Hasil Surveinya

Hasil survei mendapati temuan sebanyak 57 persen responden menyatakan tidak setuju jika Prabowo berpasangan dengan Jokowi untuk Pilpres 2024

Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Aqwamit Torik
Instagram/jokowi
Prabowo Subianto bersama Presiden Jokowi - Wacana Prabowo - Jokowi di Pilpres 2024 malah mendapat penolakan 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Wacana duet Prabowo Subianto-Joko Widodo untuk Pilpres 2024 muncul ke permukaan, namun mendapatkan respon negatif dari masyarakat.

Sebab, mayoritas masyarakat tak ingin Prabowo dan Jokowi menjadi pasangan dalam Pilpres 2024.

Dalam survei yang baru dirilis Charta Politika mendapati temuan sebanyak 57 persen responden menyatakan tidak setuju jika Prabowo berpasangan dengan Jokowi untuk Pilpres mendatang.

Survei tersebut dilakukan pada periode 6 hingga 13 September 2022 dengan jumlah sampel sebanyak 1220 responden serta memakai metode Multistage random sampling.

Baca juga: Melihat Langkah Sandiaga Uno di Pilpres 2024, Sebut Sudah Dihubungi Banyak Parpol, Akui Satu Hal

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunMadura.com


"Sebanyak 57 persen responden menyatakan tidak setuju jika Prabowo Subianto berpasangan dengan Joko Widodo pada Pemilihan Umum 2024," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya, dalam paparan hasil survei secara daring yang ditayangkan di akun youtube, Kamis (22/9/2022). 


Wacana ini selama beberapa waktu terakhir memang muncul dan menjadi pro kontra di publik. Temuan survei yang dilakukan Charta Politika tersebut menjadi menarik.

Sebab, Prabowo merupakan figur yang memiliki elektabilitas tinggi.

Sementara Jokowi, Presiden dua periode memiliki loyalis yang fanatik. 


Menurut Yunarto, berkaca dari temuan itu, seandainya pun diperbolehkan maju berpasangan nantinya maka hal itu sangatlah berat bahkan bisa jadi peluangnya justru akan kalah.

"Berat, dengan angka penolakan sebesar 57 persen untuk menjadi calon yang bisa menggarap elektoral angka yang tinggi," jelasnya. 


Lebih lanjut, Yunarto mengatakan jika memperhatikan data temuan itu nampaknya wacana semacam itu tidak cukup menarik untuk masyarakat.

"Karena, isu yang konkret Prabowo-Jokowi ini pun tidak menarik bagi sebagian responden, lebih banyak yang menolak," terangnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved