Berita Surabaya

7 Hari Tak Ketemu, Pencarian Balita Hilang di Sungai Brantas Diberhentikan, Terkendala Eceng Gondok

Satu buah hati mereka yang usia paling muda telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sedangkan satu anak yang lain hingga sekarang belum ketemu.

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Ficca Ayu
TribunMadura.com/Tony Hermawan
Tim SAR gabungan saat mencari balita usia 3 tahun hilang di Sungai Brantas. 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Sutrisno (50) dan Sumiarti (43), pasangan suami istri asal Kedurus Pasar Lama, Surabaya ini benar-benar diuji dengan cobaan berat. Dua balita mereka pada 25 Juni lalu hilang  di Sungai Brantas. Satu buah hati mereka yang usia paling muda telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sedangkan satu anak yang lain hingga sekarang belum ketemu.

Sekarang operasi SAR telah berhenti. Hal itu mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan pada Pasal 34 ayat (1). Di pasal tersebut tertulis bahwa pelaksanaan operasi tim SAR dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 7 hari.

Octavino selaku Komandan Tim Basarnas mengatakan sebelum operasi SAR diberhentikan 150 personil gabungan baik dari instansi pemerintah maupun relawan telah melakukan pencarian korban secara maksimal dari pagi hingga malam. Bahkan, radius operasi SAR diperluas hingga sejauh 45 kilometer dari dugaan awal korban jatuh ke sungai. Titik itu menyisir pintu air Jagir dan Dermaga Mangrove Wonorejo.

Baca juga: BREAKING NEWS - Bocah Asal Pamekasan Meninggal Usai Tenggelam di Sampang Waterpark

Baca juga: Bocah TK Tenggelam di Kolam Renang saat Ibu Ambil Baju Renang, Mulut Korban Berbusa Berakhir Maut

"Ada 8 tim selam dan 12 unit kapal karet yang sudah kami kerahkan ke lokasi," kata Octavino.

Selama pencarian, tim seringkali terkendala keberadaan enceng gondok. Korban di hari kedua-ketiga sempat diprediksi tersangkut di enceng gondok yang mengapung dekat pintu air Gunung Sari. Lokasi itu menjadi titik korban pertama ditemukan. Sayangnya,  keberadaan Sinta di sana tidak ditemukan.

Terpisah, Kompol Risky Fardian Kapolsek Karangpilang saat dikonfirmasi memastikan meskipun operasi SAR telah berhenti pihaknya bersama keluarga korban dan masyarakat tetap melakukan ikhtiar. Pihak keluarga setiap malam menggelar doa bersama di rumah duka. Kemudian, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan warga yang tinggal di bibir sungai dan petugas pintu air sungai. Apabila melihat korban berada di sungai diminta untuk segera melapor.

"Semoga setelah ini ada kabar baik," ucap Risky.

Baca Berita Madura lainnya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved