Kilas Balik
Ngerinya Perwira TNI AU Saksikan Pesawat Jatuh dan Meledak di Depan Soekarno, Tewaskan 1 Pilot
Seorang perwira TNI AU pernah menyaksikan jatuhnya pesawat pada era Presiden Soekarno.
Hal itu sebagaimana yang tertulis dalam buku "Pak Harto The Untold Stories".
Amoroso mengatakan, dia pernah menanyakan hal itu kepada Soeharto.
Menurut Amoroso, terdapat sejumlah hal yang disampaikan Soeharto terkait alasan memakamkan Soekarno di Blitar.
Satu di antaranya karena di sana, jenazah Soekarno bisa dimakamkan dekat dengan sang ibu.
"Ketika Bung Karno meninggal mau dimakamkan di mana, karena ketika itu terdapat berbagai masukan dari keluarga beliau. Tetapi saya ingat bahwa Bung Karno adalah orang yang sangat menghargai ibunya. Jadi saya putuskan beliau dimakamkan dengan ibunya di Blitar," kata Amoroso, menirukan Soeharto.
Selain itu, hal tersebut juga sebagai bentuk penghormatan Soeharto kepada Soekarno.
Sebab, Amoroso pernah menanyakan sesuatu kepada Soeharto terkait perannya dalam film "Trikora".
"Ketika itu Bapak kan ngendiko (mengatakan), saat Bung Karno bertanya kepada Bapak, aku iki arep mbok apakke (saya ini mau kamu apakan)?," ujar Amoroso, yang kembali menirukan ucapan Soeharto.
Mendapat pertanyaan dari Soekarno, Soeharto pun segera menjawabnya.
"Saya ini orang Jawa. Saya menganggap Bapak adalah bapak saya, sehingga prinsipnya adalah mikul dhuwur mendhem jero (mengangkat semua kebaikan setinggi-tingginya, menimbun semua keburukan sedalam-dalamnya)," kata Amoroso, yang masih mengulang ucapan Soeharto.
Satu di antara cara yang disampaikan Soeharto adalah mengabadikan nama Soekarno di pintu gerbang Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta.
"Situasi politik pada waktu itu tidak memungkinkan saya berbuat banyak kepada Bung Karno, karena itu akan bertentangan dengan kehendak rakyat. Tetapi sesudah semuanya reda, saya segera memerintahkan untuk mengabadikan nama beliau di pintu gerbang Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta," tutur Amoroso menirukan jawaban Soeharto.
Amoroso juga mengungkap alasan Soeharto memberikan gelar Pahlawan Proklamasi kepada Soekarno.
Menurutnya, saat itu ada banyak pertentangan atau perdebatan mengenai gelar pahlawan untuk Soekarno.
Tidak hanya itu, Soeharto juga sempat berpikir, gelar pahlawan apa yang paling tepat untuk Soekarno.
Hingga, akhirnya Soeharto pun memberikan gelar Pahlawan Proklamasi kepada Soekarno.
"Akhirnya saya berikan nama Pahlawan Proklamasi dan itu tidak ada yang bisa melawan, karena memang kenyataannya Bung Karno adalah Sang Proklamator," ujar Amoroso, yang sekali lagi menirukan ucapan Soeharto.
Sementara itu, soal film Pengkhianatan G30S/PKI mulai dilarang untuk ditayangkan sejak era reformasi.
Ada sosok jenderal yang melarang pemutaran film G30S/PKI.
Ada alasan khusus jenderal tersebut melarang pemutaran film G30S/PKI.
Film itu dianggap tidak sesuai fakta.
Film Pengkhianatan G30S PKI adalah film yang mengisahkan tentang peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Film ini disutradarai oleh Arifin C. Noer dan dirilis pada tahun 1984.
Film ini sempat menjadi film terlaris di bioskop dan wajib ditonton oleh masyarakat setiap 30 September di zaman Orde Baru.
Namun, film ini juga menuai kontroversi dan kritik dari berbagai pihak, termasuk salah satu tokoh militer Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan yang terakhir pada masa pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, yaitu Letjen TNI (Purn.) Muhammad Yunus Yosfiah.
Dilansir dari Intisari, Yosfiah adalah lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1965 dan pernah terlibat dalam operasi militer di Timor Timur pada tahun 1975.
Yosfiah merupakan orang pertama yang melarang pemutaran film Pengkhianatan G30S PKI saat menjabat sebagai Menteri Penerangan pada tahun 1998.
Alasan Yosfiah melarang film ini adalah karena ia menganggap film ini tidak sesuai dengan fakta sejarah dan hanya berdasarkan pada versi Orde Baru.
Yosfiah juga menilai film ini mengandung unsur kekerasan, propaganda, dan provokasi yang dapat memecah belah bangsa.
Yosfiah berharap agar film Pengkhianatan G30S PKI tidak diputar lagi di Indonesia dan diganti dengan film yang lebih objektif dan berdasarkan pada sumber-sumber sejarah yang kredibel.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh film tersebut dan lebih kritis dalam mempelajari sejarah bangsa.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com
Pemuda Kaffa Ledakkan Diri di Jembatan Junok, Hadang Belanda Masuk Bangkalan, Makamnya Tak Terurus |
![]() |
---|
Sosok Kapolri Jujur yang Diberhentikan Presiden, Semua Dilakukan Demi Bela Nasib Korban Perkosaan |
![]() |
---|
Aksi Berani Paspampres Soeharto Lawan 4 Pengawal PM Israel yang Berulah, Sampai Todongkan Senjata |
![]() |
---|
Aktor Film Pengkhianatan G30S/PKI Ungkap Alasan Soeharto Makamkan Soekarno di Blitar |
![]() |
---|
Profil Joseph Goebbels Menteri Propaganda Nazi, Namanya Disinggung Presiden Prabowo saat Pidato |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.