Berita Terkini

Gus Binhad Ngotot Sebut Soekarno Lahir di Jombang: Ari-ari Dikubur di Ploso

Binhad Nurrohmat, seorang sastrawan, menyebut Soekarno, yang merupakan Bapak Bangsa itu, sebenarnya lahir di Ploso, Jombang

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Januar
TribunMadura/ Tony Hermawan
Diskusi menapaki Jejak Soekarno di Gedung Dakesda Sidoarjo. 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Tony Hermawan


TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA-Setiap bulan Agustus, suasana di Indonesia berwarna merah-putih. Kampung-kampung dan jalan raya dipenuhi bendera dan umbul-umbul untuk merayakan HUT RI yang jatuh setiap 17 Agustus.

Namun, di balik kemeriahan perayaan tersebut, muncul perdebatan yang mengguncang catatan sejarah.

Belakangan ini, Binhad Nurrohmat, seorang sastrawan, menyebut Soekarno, yang merupakan Bapak Bangsa itu, sebenarnya lahir di Ploso, Jombang, bukan di Surabaya seperti yang selama ini diyakini banyak orang.

Dalam acara diskusi menepaki Jejak Soekarno yang berlangsung di Gedung Kesenian Sidoarjo pada Minggu (4/8), Gus Binhad, sapaan akrab Binhad Nurrohmat, memaparkan argumennya dengan rinci tentang bukti bahwa Soekarno lahir di Ploso, Jombang.

Menurutnya, catatan dari tahun 1921-an di Technische Hoogeschool te Bandung, yang kini dikenal sebagai ITB, mencatat bahwa Soekarno lahir pada 6 Juni 1902, sesuai dengan catatan ayahnya, Soekeni. Catatan yang sama juga ditemukan di ITS, menunjukkan tahun lahir yang konsisten.

Gus Binhad menyebutkan bahwa catatan ini bertahan hingga tahun 1930-an, sebelum akhirnya muncul perubahan tahun lahir Soekarno menjadi 1900 dan kemudian 1901. Berdasarkan data tersebut, dirinya memilih untuk percaya pada dokumen-dokumen yang lebih awal.

"Dari catatan-catatan tersebut, saya menyimpulkan bahwa Soekarno lahir di Jombang," ujar Gus Binhad.

Lebih lanjut, Gus Binhad menjelaskan bahwa Soekemi Sosrodihardjo, ayah Soekarno, yang merupakan seorang guru, bekerja di Jombang pada 28 Desember 1901 hingga 1907.

Dengan demikian, jika Soekarno lahir pada 1902, kemungkinan besar ia lahir di Ploso. Penelitiannya berlanjut dengan menggali data dari sesepuh di Ploso, yang memperkuat kebenaran cerita masa kecil Soekarno. Ada cerita tentang ari-ari yang dikubur oleh Sumojani serta Mbah Suwi yang diduga mengasuh Soekarno di Ploso.

Penelusuran ini kemudian diperkuat dengan referensi dari buku geografi karya Cindy Adams berjudul *Soekarno My Friend*, terbitan 1971. Buku tersebut memuat foto Cindy Adams bersama Mbah Suwi dan Joyo Dipo, yang merupakan teman bermain Soekarno, di depan rumah Soekarno.

Dengan semua bukti yang ada, Gus Binhad menggagas gerakan titik nol Soekarno di Ploso. Ia bahkan telah menggelar kirab dari rumah Soekarno menuju Sekolah Ongko Loro, yang kini menjadi terminal, sebagai bentuk penghargaan terhadap klaim barunya.

Di sisi lain, Taufan Hidayat, Budayawan Surabaya, tetap meyakini bahwa Soekarno lahir di Surabaya. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Raden Soekeni Sosrodihardjo menikahi Ida Ayu Nyoman Rai pada 15 Juni 1887 dan diduga kuat tinggal di Kampung Pandean, Surabaya.

Dari pernikahan itu, pada 29 Maret 1889 lahir anak pertama, Soekarmini. Kemudian, pada 6 Juni 1901, Soekarno lahir dan dinamai Koesno. Bapak Proklamator itu lahir di Surabaya tidak lama setelah Gunung Kelud meletus.

"Soekarno tidak lahir di rumah sakit atau dengan bantuan dukun bayi karena orang tuanya tidak memiliki biaya untuk membayar dukun bayi. Yang membantu ibunya melahirkan adalah kerabat dari bapak Soekarno," terang Taufan.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved