Berita Terkini
Padahal Panasnya Tinggi dan Sesak Nafas, Bayi Ditolak Dirawat di Rumah Sakit saat Pakai BPJS
Sebuah kisah memilukan di dunia kesehatan baru-baru ini terjadi. Seorang balita ditolak berobat meski badannya sudah panas tinggi.
TRIBUNMADURA.COM- Sebuah kisah memilukan di dunia kesehatan baru-baru ini terjadi.
Seorang balita ditolak berobat menggunakan BPJS meski badannya sudah panas tinggi.
Seorang balita ditolak mendapatkan perawatan di IGD RSUD KHZ Musthafa, Tasikmalaya dengan menggunakan fasilitas BPJS.
Aalasannya, balita anak dari anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya itu tidak menunjukan NIK.
Dilansir dari TribunJabar, awalnya balita 6 bulan itu dibawa IGD RSUD KHZ Mustofa sekitar pukul 19.05 di IGD RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya dengan gejala panas tinggi dan terlihat seperti sesak, gelisah dan menangis terus menerus.
Orangtua pasien, Luthfi, menuju loket untuk melakukan mendaftarkan pasien dengan membuka aplikasi JKN. Sedangkan identitas seperti KK tidak terbawa karena spontan dan kondisi panik melihat anaknya panas tinggi.
Namun, petugas loket pendaftaran tetap meminta identitas seperti KTP dengan alasan untuk mengetahui NIK.
Padahal dalam identitas yang sudah diperlihatkan kepada petugas sudah ada nomor BPJS dan statusnya aktif.
Karena kondisi panik akhirnya orang tua meninggalkan loket pendaftaran dan masuk IGD untuk memastikan pasien sudah ditindak atau belum.
Namun ketika masuk IGD, pasien belum diberi tindakan sama sekali dan masih digendong ibu pasien tanpa ada fasilitas seperti brangkar, padahal kondisi IGD pada waktu itu tidak banyak pasien.
Penanganan baru dilakukan setelah beberapa menit oleh dokter tanpa diberi obat apapun dan menjelaskan perihal hasil pemeriksaan serta memberikan satu lembar resep obat untuk dibeli di luar rumah sakit.
“Anak saya terlihat sesak, gelisah dan menangis tiada henti, namun petugas IGD menunda penanganan medis dengan alasan harus menyelesaikan administrasi pendaftaran terlebih dahulu,” ungkap Luthfi ketika dikonfirmasi wartawan TribunPriangan.com, Selasa (29/7/2025).
Luthfi menjelaskan saat dirinya menuju loket pendaftaran untuk mendaftarkan pasien dengan membuka aplikasi JKN, ia tak sempat membawa KK karena panik melihat kondisi anaknya.
“Karena kondisi panik akhirnya saya meninggalkan loket pendaftaran dan masuk IGD untuk memastikan pasien sudah ditindak atau belum,” ungkapnya.
Penanganan baru dilakukan setelah beberapa menit tertunda, yang tentu sangat berisiko bagi keselamatan pasien.
“Beberapa menit baru ada tindakan dari petugas sekuriti membawa brangkar dan pasien diperiksa oleh dokter tanpa diberi obat apapun dan perihal hasil pemeriksaan selanjutnya dokter memberikan satu lembar resep obat untuk dibeli di luar rumah sakit," tutur Luthfi.
| Seusai Salurkan 1.000 Makanan untuk Sudan, Teman Baik Terus Beri Bantuan hingga Ramadan |
|
|---|
| Jumlah Tersangka Pengeroyokan Nenek Elina yang Ditangkap Polisi Bertambah, Ada yang Dimarahi Istri |
|
|---|
| Kuatkan Pembelajaran Kurikulum Berbasis Cinta, Unesa Gelar Pelatihan AI untuk Guru di Sumsel |
|
|---|
| Dirikan Kabantara Grup, Pengusaha Jawa Timur Siap Perkuat Hegemoni Usaha Tambang Bauksit Indonesia |
|
|---|
| Asrorun Ni’am Soleh Dikuhkukan Sebagai Ketum MA IPNU 2025–2030 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/Ilustrasi-bayi-memegang-tangan-ibunya.jpg)