Rabu, 6 Mei 2026

Berita Sumenep

Kasus DBD di Sumenep Tembus 1.159 Sepanjang 2025, Kalianget Tertinggi

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sumenep masih menjadi perhatian serius. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 1.159 warga

Tayang:
Penulis: Ali Hafidz Syahbana | Editor: Januar
istimewa/ Tribunnews
TERSERANG DBD : Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) 

Ringkasan Berita:
  • Sepanjang 2025 tercatat 1.159 kasus DBD di Kabupaten Sumenep dengan 11 korban meninggal dunia, sementara 1.148 pasien dinyatakan sembuh setelah mendapat perawatan di puskesmas.
  • Kasus terbanyak ditangani Puskesmas Kalianget (132 kasus), dipicu kondisi lingkungan seperti tambak dan genangan air. 
  • Mayoritas penderita berasal dari kelompok usia produktif 25–49 tahun dengan mobilitas tinggi.

 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sumenep masih menjadi perhatian serius.

Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 1.159 warga terserang DBD, dengan 11 orang di antaranya meninggal dunia.

Data tersebut yang tercatat di Dinas Kesehatan P2KB Sumenep. Dari total kasus, 1.148 pasien dinyatakan sembuh setelah mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri mengatakan bahwa seluruh kasus DBD itu ditangani oleh 30 puskesmas yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan.

"Kasus paling banyak ditangani Puskesmas Kalianget, jumlahnya mencapai 132 penderita," ungkap Syamsuri, Senin (12/1/2026).

Baca juga: Madura Terpopuler: Polisi Pamekasan Tangkap Pengedar Narkoba hingga Demam Berdarah di Sampang Naik

Menurutnya, tingginya kasus DBD di Kecamatan Kalianget dipengaruhi kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

"Di Kalianget banyak tambak udang dan cekungan air. Itu menjadi tempat ideal nyamuk berkembang biak," jelasnya.

Syamsuri menambahkan, mayoritas penderita DBD di Sumenep berada pada rentang usia 25 hingga 49 tahun.

Kelompok usia tersebut dinilai memiliki mobilitas dan aktivitas yang cukup tinggi.

"Usia produktif cenderung sering beraktivitas di luar rumah, sehingga lebih rentan terkena DBD," ujarnya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas.

"Selain itu, kerja bakti membersihkan lingkungan juga penting agar nyamuk tidak mudah berkembang biak. Jika muncul gejala DBD, segera periksa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan intensif," imbaunya.

Terpisah, Anggota Komisi IV DPRD Sumenep, Sami'oeddin meminta Dinas Kesehatan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan kasus DBD, terutama terkait adanya korban meninggal dunia.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved