Rabu, 10 Juni 2026

Madura Terpopuler

Madura Terpopuler: Ukuran Tempe di Bangkalan Semakin Tipis hingga Pria Sampang Ditembak

Berita pertama tentang curhatan pengrajin tempe di Bangkalan yang memilih memperkecil ukuran produk imbas harga kedelai impor naik.

Tayang:
Editor: Dwi Prastika
Kolase/TribunMadura.com/Ahmad Faisol dan Istimewa
KOLASE - Pria 34 tahun di Sampang mengalami luka tembak di bagian tumit kaki kiri setelah diduga ditembak seorang pria berinisial G saat terjadi cekcok. Hal itu dipicu tuduhan mencuri sandal dan mesin pompa air, Sabtu (6/6/2026). Pelaku UMKM tempe, Nur Alya Pratiwi (28), warga Desa Keleyan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura, tidak menaikkan harga tempe produksinya, namun memilih memperkecil ukuran, seiring melonjaknya harga bahan baku kedelai impor serta kebutuhan plastik, Senin (8/6/2026). 

TRIBUNMADURA.COM - TribunMadura.com merangkum berita Madura terpopuler pada Selasa, 9 Juni 2026.

Berita pertama tentang curhatan pengrajin tempe di Bangkalan yang memilih memperkecil ukuran produk imbas harga kedelai impor naik karena melemahnya nilai tukar rupiah.

Kemudian kuota peserta didik untuk program Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Kabupaten Sumenep belum terpenuhi.

Lalu pria di Sampang yang ditembak usai dituduh mencuri sandal dan mesin pompa air.

Berikut ini selengkapnya berita Madura terpopuler hari ini, rangkuman TribunMadura.com pada Selasa (9/6/2026):

Ukuran Tempe di Bangkalan Semakin Tipis Terhimpit Dolar AS, Harga Kedelai Impor Merangkak Naik

TEMPE - Pelaku UMKM tempe, Nur Alya Pratiwi (28), warga Desa Keleyan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura, tidak menaikkan harga tempe produksinya, namun memilih memperkecil ukuran, seiring melonjaknya harga bahan baku kedelai impor serta kebutuhan plastik, Senin (8/6/2026).
TEMPE - Pelaku UMKM tempe, Nur Alya Pratiwi (28), warga Desa Keleyan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura, tidak menaikkan harga tempe produksinya, namun memilih memperkecil ukuran, seiring melonjaknya harga bahan baku kedelai impor serta kebutuhan plastik, Senin (8/6/2026). (TribunMadura.com/Ahmad Faisol)

Ketergantungan terhadap stabilitas harga kedelai impor dirasakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tempe di Kabupaten Bangkalan, Madura, Senin (8/6/2026).

Melonjaknya harga bahan baku kedelai impor seiring melemahnya rupiah terhadap dolar AS, memaksa produsen tempe rumahan berskala kecil di perkampungan mengurangi ukuran potongan setiap tempe.

Pelaku UMKM tempe, Junaidi Suharja (31), warga Desa Keleyan, Kecamatan Socah, Bangkalan, mengungkapkan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dirasa menguras biaya produksi tempe, karena harga per sak kedelai impor merangkak naik setiap harinya.

"Kenaikan harga bahan baku kedelai impor karena mengikuti dolar AS. Harga kedelai impor sudah naik mulai awal tahun, meski Rp100 per kilogram, terkadang Rp200. Sekarang kedelai impor Rp10.900 per kilogram, sebelumnya Rp10.000," ungkap pria yang biasa disapa Yudi itu, Senin (8/6/2026). 

Dikutip dari TribunKaltim.com edisi Minggu (7/6/2026) malam, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tipis, sebagaimana dilansir dari data Bloomberg. Disebutkan, rupiah di pasar spot menguat tipis 0,07 persen secara harian ke Rp18.036 per dolar AS.

"Ketika saya kulakan 10 sak, berati ada kenaikan Rp100 ribu karena setiap sak berisi 50 kg. Sebelumnya terjadi kenaikan harga kedelai impor, saya biasa kulakan bahan baku sejumlah Rp5 juta, sekarang total Rp6 juta," jelas Yudi didampingi istrinya, Nur Alya Pratiwi (28).

Selain terhimpit kenaikan harga bahan baku kedelai impor, Yudi juga dibuat menghela napas panjang ketika dihadapkan dengan kenaikan signifikan bahan plastik untuk kebutuhan produksi tempe. 

Bapak dua anak itu memaparkan, harga setiap ikat plastik berisi 10 helai sudah menyentuh Rp15 ribu, bahkan pernah seharga Rp20 ribu sebelum kembali seharga Rp15 ribu.

Padahal sebelum terjadi kenaikan, harga per ikat plastik tempe masih Rp10 ribu. 

Baca Selengkapnya di Sini

Baru 24 Siswa Lengkapi Berkas, Kuota Sekolah Rakyat Terintegrasi di Sumenep Masih Jauh dari Target

SEKOLAH RAKYAT - Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 18 Tuban mengikuti proses pembelajaran didampingi oleh Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 18 Tuban, Vera Khairun Nissa, Selasa (19/5/2026).
SEKOLAH RAKYAT - Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 18 Tuban mengikuti proses pembelajaran didampingi oleh Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 18 Tuban, Vera Khairun Nissa, Selasa (19/5/2026). (Tribun Jatim Network/Muhammad Nurkholis)
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved